Global Variables

Selasa, 17 Januari 2012

islam asia tenggara



Bab I
Pendahuluan

Secara umumnya Sejarah Islamselepas kewafatan Nabi Muhammad s.a.w. telah berkembang secara serius diseluruhdunia. Kerajaan Bani Ummaiyyah, Kerajaan Bani Abbasiyyah, dan Turki Utsmaniyyah boleh dikatakanpenyambung kekuatan Islam selepas pemerintahan Khulafa al-Rasyidin. Sampai akhirnya Islammasih bertahan hingga saat ini.
Tidak hanya di daerah Arabsaja Islam berkembang, akan tetapi di Afrika, Spanyol, bahkan sampai di BenuaAsia Tenggara bendera Islam berkibar. Dikalangan masyarakat sendiri sebenarnyatidak kurang informasi historiografi berupa hikayat, silsilah, babad, cerita,syair, dan banyak lagi yang mengungkapkan tentang perkembangan Islam dikawasanAsia Tenggara.[1]
Untukmelacak sejarah masuknya Islam di Asia Tenggara bukanlah urusan mudah. Takbanyak jejak yang bisa dilacak. Ada beberapa pertanyaan awal yang bisa diajukanuntuk menelusuri kedatangan Islam di Asia Tenggara. Beberapa pertanyaan ituadalah, dari mana Islam datang? Dimana pusat-pusat pentebaran Islam di AsiaTenggara? Serta bagaimana kemajuan Ilmu Agama?

Bab II
Rumusan Masalah

Dari pemaparan di atas rumusanmasalah yang dibahas oleh penulis dalam makalah ini adalah:
1. Masuknya islam di asia tenggara
2. Pusat-pusat penyebaran Islam di Asia Tenggara
3. Kemajuan Ilmu Agama

Bab III
Pembahasan

  1. Masuknya Islam di Asia Tenggara
Asia Tenggara merupakantempat berkembangnya Islam pada masa itu yang terkenal menghasilkan banyakrempah-rempah, sehingga menjadi ajang perebutan Negara-negara Eropa. KekuatanEropa malahh lebih awal menancapkan kekuasaannya di negeri ini.[2]
Islam masuk ke Asia Tenggaradisebarluaskan melalui kegiatan kaum pedagang. Hal ini berbeda dengan daerahIslam di Dunia lainnya yang disebarluaskan melalui penaklulan daerah-daerah(kerajaan-kerajaan) pada masa itu. Islam masuk di Asia Tenggara dengan jalandamai, terbuka dan tanpa pemaksaan sehingga Islam sangat mudah diterimamasyarakat Asia Tenggara.
Jalur-jalur yang menyatukanAsia Tenggara dibuktikan dengan membahas Campa (ujung selatan Vietnam sekarang)dan Ayutthaya (pesisir Thailand sekarang).[3]
Mengenai proses awalmasuknya Islam di Asia Tenggara tidak berlangsung secara serta merta, akantetapi melalui beberapa tahapan. Penetrasi Islam asia Tenggara secara kasardapat dibagi kedalam tiga tahapan, sebagai berikut: [4]
1) Dimulai dengan kedatangan Islam yang diikuti dengan kemerosotan,akhirnya keruntuhan Kerajaan Majapahit pada kurunabad ke 14 dan 15
2) Semenjak dating dan mapannya kekuasaan kolonialisme belanda diIndonesia, Inggris di Semenanjung Malaya, dan Spanyol di Filiphina sampai awalabad ke 19.
3) Bermula abad ke 20 dengan terjadinya leberalisasi kebijakanpemerintaha colonial terutama di Indonesia.

Ada beberapa teori mengenaiproses masuknya Islam di asia tenggara, antara lain:
1) Teori yang mengatakan bahwa Islam dating langsung dari Arab atauHadramaut. Teori ini dikemukakan oleh Cawfrud (1820), Kayzer (1859), Niemann(1861), de Hollander (1861), dan Vert (1878). Crawfurd menyatakan bahwa Islamdating langsung dari Arab, meskipun pada bagian lain menyebutkan adanya bagiandari orang-orang Mohammedan di India Timur. Sementara itu, Kayzer beranggapanbahwa Islam dating dari Mesir yang bermadzhab Syafi’I, sama dengan yang di anutkaum muslimin lainnya. Ternyata teori tersebut juga dipegang oleh Niemann dande Hollander, tetapi dengan menyebut Hadramaut, bukan Mesir sebagai sumberdatangnya Islam. Karena mereka adalah pengikut Madzhab Syafi’I sebagaimanaorang-orang Arabtanpa menyebut Timur Tengah atau kaitannya dengan Hadramaut,Mesir atau India.[5]
2) Teori ini mengatakan bahwa Islam datang dari India. Pertama kalidikemukakan oleh Pijnapel 1872. Berdasarkan terjemahan Prancis tentang catatanperjalanan Sulaiman, Marcopolo dan Ibnu Battuttah, ia menyimpulkan bahwaorang-orang Arab yang ber madzhab Syafi’I, Gujarat, dan Malabar di India yangmembawa Islam si Asia Tenggara. Dengan melalui perdagangan, sangat memungkinkanterselenggaranya hubungan antara dua wilayah, diperkuat dengan istilah-istilahPersia (yang dibawa dari India) digunakan oleh pelabuhan kota-kota di Asiatenggara. Teori ini dikembangkan oleh Snouck Hurgronje yang melihat parapedagang kota pelabuhan Dhaka di India Selatan Sebagai pembawa Islam ke wilayahIslam baru ini. Kemudian dikembangkan lagi oleh Morrison (1951), dengan merujuktempat yang pasti bahwa Islam dating dari India. Ia merujuk Pantai Koromandelsebagai tempat pelabuhan bertolaknya para pedagang muslim dalam pelayaranmereka menuju nusantara.[6]
3) Dikembangkan oleh Fatimi bahwa Islam datang dari Benggali danketurunan mereka. Dam Islam muncul pertama kali di semenanjung Malaya, dariarah Pantai Timur bukan dari Barat (Malaka), pada abad ke 11 M melalui KantongPhanrang (Vietnam), Leran, dan Trengganu. Ia beralasan bahwa secara doktrinIslam disemenanjung lebih sama dengan Islam di Phanrang diperkuat denganelemen-elemen yang ada di Trengganu lebih mirip dengan prasasti yang ada diLeran. Sementara Drewes, mempertahankan teori Snouck, bahwa teori Fatimi initidak dapat diterima, karena penafsirannya atas prasasti yang ada dinilai“perkiraan liar belaka”. Lagi pula madzhab yang dominan di Benggala adalahmadzhab Hanafi bukan madzhab Syafi’I seperti di Semenanjung dan nusantarasecara keseluruhan.[7]
Sedangkan menurut Uka Tjandra Sasmita,prorses masukya Islam ke Asia Tenggara yang berkembang ada enam, yaitu:[8]
1. Saluran perdagangan
Pada taraf permulaan, proses masuknya Islam adalah melaluiperdagangan. Kesibukan lalu-lintas perdagangan pada abad ke-7 hingga ke-16membuat pedagang Muslim (Arab, Persia dan India) turut ambil bagian dalamperdagangan dari negeri-negeri bagian Barat, Tenggara dan Timur Benua Asia.Saluran Islamisasi melaui perdagangan ini sangat menguntungkan karena para rajadan bangsawan turut serta dalam kegiatan perdagangan, bahkan mereka menjadipemilik kapal dan saham. Di beberapa tempat penguasa-penguasa Jawa yangmenjabat sebagai Bupati Majapahit yang ditempatkan di pesisir Utara Jawa banyakyang masuk Islam, karena factor hubungan ekonomi dengan pedagang-pedagangMuslim.
2. Saluran perkawinan
Dari sudut ekonomi, para pedagang Muslim memiliki status sosialyang lebih baik daripada kebanyakan pribumi, sehingga penduduk pribumi terutamaputeri-puteri bangsawan, tertarik untuk menjadi isteri saudagar-saudagar itu.Sebelum dikawin mereka diislamkan terlebih dahulu. Setelah mereka mempunyaiketurunan, lingkungan mereka makin luas, akhirnya timbul kampung-kampung,daerah-daerah dan kerajaan Muslim.
3. Saluran Tasawuf
Pengajar-pengajar tasawuf atau para sufi mengajarkan teosofi yangbercampur dengana ajaran yang sudah dikenal luas oleh masyarakat Indonesia.Dengan tasawuf, “bentuk” Islam yang diajarkan kepada penduduk pribumi mempunyaipersamaan dengan alam pikiran mereka yang sebelumnya menganut agama Hindu,sehingga agama baru itu mudah dimengerti dan diterima. Diantara ahli-ahlitasawuf yang memberikan ajaran yang mengandung persamaan dengan alam pikiranIndonesia pra-Islam itu adalah Hamzah Fansuri di Aceh, Syekh Lemah Abang, danSunan Panggung di Jawa. Ajaran mistik seperti ini masih dikembangkan diabad ke-19 M bahkan di abad ke-20 M ini.
4. Saluran Pendidikan
Islamisasi juga dilakukan melalui pendidikan, baik pesantrenmaupun pondok yang diselenggarakan oleh guru-guru agama, kiai-kiai dan ulama.Di pesantren atau pondok itu, calon ulama, guru agama dan kiai mendapatpendidikan agama. Setelah keluar dari pesantren, mereka pulang ke kampungmasing-masing atau berdakwak ketempat tertentu mengajarkan Islam. Misalnya,pesantren yang didirikan oleh Raden rahmat di Ampel Denta Surabaya, dan SunanGiri di Giri.
5. Saluran kesenian
Saluran Islamisasi melaui kesenian yang paling terkenal adalahpertunjukan wayang. Dikatakan, Sunan Kalijaga adalah tokoh yang paling mahirdalam mementaskan wayang. Dia tidak pernah meminta upah pertunjukan, tetapi iameminta para penonton untuk mengikutinya mengucapkan kalimat syahadat. Sebagianbesar cerita wayang masih dipetik dari cerita Mahabarata dan Ramayana, tetapidalam serita itu di sisipkan ajaran nama-nama pahlawan Islam. Kesenian-kesenianlainnya juga dijadikan alat Islamisasi, seperti sastra (hikayat, babad dansebagainya), seni bangunan dan seni ukir.
6. Saluran politik
Di Maluku dan Sulawesi selatan, kebanyakan rakyat masuk Islamsetelah rajanya memeluk Islam terlebih dahulu. Pengaruh politik raja sangatmembantu tersebarnya Islam di daerah ini. Di samping itu, baik di Sumatera danJawa maupun di Indonesia Bagian Timur, demi kepentingan politik,kerajaan-kerajaan Islam memerangi kerajaan-kerajaan non Islam. Kemenangankerajaan Islam secara politis banyak menarik penduduk kerajaan bukan Islam itumasuk Islam.


  1. Pusat-pusat Penyebaran Islam di Asia Tenggara
Penyebaran Islam di Asia Tenggara ditandai dengan berdirinyakesultanan-kesultanan Islam. Sejarah perkembangan kesultanan Islam di wilayahAsia Tenggara tidak lepas dari kepentingan perdagangan dan syiar agama yangdibawa oleh saudagar muslim dari Asia Barat. Adapun Malaka dikenal sebagaigerbang Nusantara. Karena Malaka merupakan jalan lalu lintas perdagangan AsiaTenggara. Sedangkan Aceh menjadi pintu masuk perdagangan, sehingga mendapatjulukan serambi Mekkah.[9]
Bentuk pemerintahan Melayu-Muslim, yaitukerajaan yang berpusat pada raja, yang bersifat seremonial. Kerajaan itu jugamemiliki akar yang dalam pada masa pra-Islam. Unsur-unsur India dan animistismerupakan komponen dalam martabat raja Melayu, hal itu juga merupakan faktayang lepas-lepas dari masa Pra-Islam mengesankan bahwa martabat raja Melayutidak banyak berubah dengan kedatangan agama baru. Perkembangan raja Melayutidak bisa digambarkan pasti, tetapi kedatangan islam tampaknya tidak mengubahsecara radikal. Struktur seremonial Negara Islam-Melayu, gelar-gelar danritual-ritual yang memperlihatkan pencapaian duniawi dan spiritual dariorang-orang Melayu.[10]
Adapun pusat-pusat penyebaran Islam diAsia Tenggara lebih kepada kerajaan-kerajaan yang ada pada masa itu. Mulaidengan cara perdagangan, perkawinan silang, seni, pendidikan dan dalam hallainnya. Adapun kerajaan-kerajaan yang ada dimasa itu antara lain adalah:
a) Kesultanan Malaka (abad ke 15)
Kesultanan ini terletak disemenanjung Malaka. Islam di Malakaberasal dari kesultanan Samudra Pasai. Pendiri Kesultanan Malaka adalahParameswara (seorang pangeran Majapahit) yang mengembara ke Tumasik(Singapura). Kemudian ia mendirikan Kerajaan Malaka dan Masuk Islam.[11]
Kerajaan Malaka menjadi maju dalam perdagangan karena Malakasebagai Ibu Kota pelabuhan yang dikunjungi banyak pedagang sebagai pusattransit perdagangan di wilayah Asia Tenggara. Kerajaan malaka pada saat itujuga sebagai salah satu pusat penyebaran agama Islam ke berbagai wilayah Asiatenggara. Adapun sultan-sultan Malaka adalah:[12]
1) Parameswara (Megat IskandarSyah 1402-1424)
2) Sultan Muhammad Syah (1424-1444)
3) Sri Prameswara Dewa Syah(1446-1459)
4) Sultan Muzaffar Syah (1459-1477)
5) Sultan Mansyur Syah (1459-1477)
6) Sultan Madmud Syah (1488-1528)

b) Kesultanan Islam Pattani (abad ke 15)
Kehadiran Islam di Pattani di mulai dengan kedatangan Syaikh Said,mubaligh dari Pasai, yang berhasil menyembuhkan Raja Pattani bernama Phaya TuNakpa yang sedang sakit parah. Phaya Tu Nakpa beragama Budha, kemudian masukIslam dan bergelar Sultan Islamil Syah. Kesultanan ini menjadi pusatperdagangan. Kerajaan ini berakhir setelah dikalahkan Kerajaan Siam dariBangkok.[13]

c) Kesultanan Brunei Darus Salam
Brunei mengalami proses islamisasi ketika kerajaanya telah berdiritidak jauh berbeda dengan Pattani atau Malaka. Tidak saja melihat ke pedalamantetapi juga ke sebrang lautan, dalam menjalankan perannya sebagai “jembatanpenyebrangan” Islam. Keluarga kerajaan Brunei mendirikan suatu oranisasikekuasaan supradesa di Teluk Manila (Luzon). Kesultanan yang baru pada tahapinilah yang dihadapi oleh Spanyol ketika mereka mendarat di Manila pada 1570.[14]
Pada tahun 1511 M, kerajaan Melayu Malakajatuh ke tangan Portugis. Maka karena vacum of power ini Brunei mengambil alihmenjadi pusat penyebaran Islam dan perdagangan di Melayu. Kerajaan Bruneimerupakan kerajaan Islam yang makmur di kawasan Asia Tenggara. Brunei berkembangdan maju pada masa pemerintahan Sultan Bolkiah (1473-1521 M) sultan Brunei yangke 5. Sultan Bolkiah sering mengadakan ekspedisi pelayaran hingga di beri gelarNahkoda Ragam.[15]

d) Kesultanan Islam Sulu (Abad ke 15)
Kesultanan Sulu merupakan kesultanan yang berada di Filiphinaselatan. Islam masuk melaliu jalur perdagangan, yang membawa adalah SyarifKarim al-Makdum, mubaligh arab yang ahli dalam pengobatan. Abu bakar seorangda’I dari Arab yang menikah dengan putri dari pangeran Bwansa dan kemudian memerintahSulu. Sayyid Abu Bakar menerapkan Islam dalam pemerintahan ataupun kehidupanmasyarakat. Para penguasa kesultanan dimulai sejak Syarif Abu Bakar (SultanSyarif al-Hasyim 1405-1420 M) hingga Sultan Jamalul Kiram II (1887) berjumlah32 sultan.[16]

e) Kesultanan Johor (Abad ke 16)
Kesultanan Johor berdiri setelah Malaka dikalahkan oleh Portugis(1511 M). Kesultanan Johor merupakan lanjutan dari kerajaan Melayu Malaka. Padamasa pemerintahan Sultan Johor keempat, yaitu Sultan Abdul Jalil Riayat SyahII, Kesultanan Johor mengalami masa puncak kemegahan.[17]
Kesultanan Johor memperkuat dirinya dengan mengadakan aliansibersama kesultanan Riau, sehingga disebut dengan kesultanan Johor Riau.Kesultanan ini berakhir setelah Raja Haji wafat dan wilayahnya dikuasai Belanda.Adapun para sultan Johor adalah:[18]
1) Sultan Alauddin Riyat Syah
2) Sultan Muzafar Syah
3) Sultan Abdul Jalil Riayat Syah I
4) Sultan Abdul Jalil Riayat Syah II

f) Serta kerajaan-kerajaan Islam saat itu seperti, Samudra Pasai,Majapahit, kerajaan Demak, Surakarta, dan lain sebagainya. (yang akan dibahasoleh pemakalah berikutnya).

Akan tetapi pusat penyebaranIslam tidak berhenti sampai padakerajaan-kerajaan pada masa itu. Akan tetapi masih berlanjut ketika AsiaTenggara telah terbentuk dalam sebuah Negara. Ada beberapa Negara yang menjadipusat penyebaran agama Islam, antara lain:
1) Brunei Darussalam
Merupakan Negara yang berdirinya berasal dari kesultanan BruneiDarussalam. Cara penyebaran islam pun tidak berbeda. Kerajaan Brunei Darussalammerupakan Negara yang menyatakan proklamasi kemerdekaan tahun 1984.Konstitusinya secara tegas menyatakan bahwa Negara tersebut adalah Negara yangberaliran Ahlus Sunnah Wal Jamaah.[19]
Seperti yang telah ada dalam pemerintahan dengan systemkekhalifahan masa lalu kita dapat melihat dan meneliti serta melacak latarbelakang akidah atau teologi dan pandangan polotik umat Islam yang beraliranSunni atau berpaham Ahlus Sunnah WalJamaah. Perkembangan Brunei sendiri sejalan dengan prinsip-prinsip dari Ahlus Sunnah Wal Jamaah. Yang berimplikasiterhadap kehidupan Masyarakatnya.[20]

2) Malaysia
Pada masa pemerintahan Inggris, urusan-urusan agama dan adatmelayu local berada dibawah yurisdiksi sultan-sultan dan hal ini diatur melaluisebuah departemen, sebuah dewan ataupun kantor sultan. Akan tetapi setelah1948, setiap Negara bagian dalam federasi Malaya membantuk sebuah departemenurusan agama. Orang-orang muslim di Malaysia juga tunduk pada hokum Islam yangditerapkan sebagai hokum status pribadi, dan tunduk pada yurisdiksi pengadilanagama (mahkamah syariah) yang diketuai oleh hakim Agama. Bersamaan dengan itupendidikan agama Islam di Malaysia telah diberi dimensi baru dengan dibentuknyafakultas-fakultas dan jurusan-jurusan agama di berbagai universitas.[21]
Adanya pergerakan dakwah memberi rasa kebersamaan spiritual danpersaudaraan yang dalam dikalangan mahasiswa ditambah dengan misi dan tujuandalam hidup yang menggerakkan mereka terus dengan komitmen yang semakinbertambah. Melalui sudang-sidang usrah merekamengembangkan buksn hanya pengatahuan agama tetapi juga persahabatan dankelompok yang saling mendukung yangmemberikan mereka perasaan aman dan kebersamaan.[22]

3) Thailand
Di Thailand, kaum minoritas muslim dipandang dengan sikap negativesebagai ornag Khaek. Secara harfiah dalam bahasa Thai, kata ini berarti “tamu”.Meskipunada sejumlah muslim india, Pakistan, cina, dan siam di Thailand,mayoritas besar dari muslim di negeri itu berasal dari ras Melayu.[23]
Di bidang politik, persoalan masyarakat muslim melayu yang inginmemisahkan diri sangat meresahkan kerajaan. Gerakan pemberontakan kaum sparatisMelayu Muslim melahirkan sejumlah organisasi seperti Pattani United LiberationOrganization (PULO), Barisan Nasional Pembebasan Pattani (BNPP), BarisanRevolusi Nasional serta sedikit kelompok sempalan lainnya meskipun tidakrelative.[24]
Strategi pemeruntahan Thai dalam mengatasinya itu memberikankeleluasaan kepada umat Islam untuk menjalankan ajaran agama, serta mengajakmasyarakat Muslim Melayu berperan dalam pembangunan Thailand. Dengan bangkitnyademokrasi di Thailandpada 1979, partisipasi masyarakat Muslim Melayu dalamsystem politik adalah sebagai warga Negara Thailand, bukan hanya sebagai muslimMelayu atau Muslim tumbuh.[25]
Di Thailand terdapat empat kelompok yang mengklaim dirinya sebagaipihak yang mewakili kepentingan masyarakat Muslim, yaitu, Chularatmontri,sebuah kelompok yang didukung Negara, kelompok ortodoks yang menerbitkan al-rabitahdan kelompok muslim Melayu Tradisional di daerah selatan yang menentangkepemimpinan Chulratmontri, namun menolak disebut sebagai rival al-rabitah.Lepas dari itu secara keseluruhan komitmen terhadap Islam tumbuh disana.[26]

4) Filiphina
Orang-orang di Filphina ini menamakan diri mereka Moro. Namun,nama ini sebenarnya lebih bersifat politis, karena dalam kenyataan Moro terdiridari banyak kelompok etnolinguistik, umpamanya Maranao, Maguindanao, Tausug,Samal, Yakan, Ira Nun, Jamanapun, Badjao, Kalibugan, Kalagan, dan Sangil.[27]
Pada decade 70-an, Michael O. Masturs dan Adib majul telah mengisikekosongan kritis dalam literatur ilmu social tentang kaum muslim di filiphina.Dalam kebijakan public, keduanya berhasil membuat draft kitab undang-undangbagi kaum muslim Filiphina yang sekarang disahkan sebagai P.D. No. 1083. Initelah melahirkan arah penelitian baru bagi reformasi hokum dan administrasipengadilan syari’ah di Asia Tenggara.[28]

5) Kamboja
Masuk Islamnya penguasa Kamboja ini lebih memperkuat posisidominasi masyarakat Muslim di Kamboja, namun seperti pengalaman Ayutthaya,ketidak stabilan hubungan internasional di wilayah ini mempengaruhi posisimasyarakat muslim di kamboja. Mereka tidak mampu mencapai posisi sebelumnya,dan Islam tidak bisa memasuki elit penguasa sebagaimana di kerajaan lain diasia Tenggara. Konspirasi di kalangan istana Negara mengakhiri kekuasaan Islamyang singkat di Kamboja. Nasib kaum muslim yang berubah dengan cepat itu akibatdari serangan gencar yang dilakukan Eropa yang kemudian mengakhiri dominasikaum muslim di Asia Tenggara.[29]
Penduduk muslim di kamboja sekitar 800.000 orang, tetapi lebihdari 70% diantaranya telah dibantai. Dari 113 masjid, hanya 20 yang tertinggal,sedangkan yang lain telah dimusnahkan. Bahkan 20 masjid setalah diperbaikidiruntuhkan pula. Para mantan pemimpin agama yang dibantai seperti Mufti HajiAbdullah, dibantai seperi halnya Haji Slimane Chekri dan Haji Slimane Fekri.Terdapat 300 guru telibat dalam pengajaran agama. Dari semua ini hanya tersisa38 orang, yang lainnya telah dibunuh.[30] Meskipun komunitas Islammenderita di tahun 1975 hingga1979, kini para komunitas bebas melaksanakankewajiban agamanya.[31]
Mayoritas komunitas Islam berasal dari etnis Cham. Sulitmemastikan kapan Cham mulai mengenal al-Quran. Islam masuk pada tahun 960-1280.Melalui hubungan dengan orang-orang melayulah Cham menjadi muslim. Cham, setelah kejatuhan negri pada tahun 1470,mereka mengungsi ke kamboja yang masyaraktnya masyarakat muslim.[32]

6) Indonesia
Secara umum di Jawa kaum muslim dapat diklasifikasikan kedalam abangan, yaitu kaum muslim yang nominal,dan santri, yaitu mereka yang taatpada ajaran agama. Mayoritas kaum muslimberasal dari pedesaan dan berlatar belakang petani. Kaum muslim yang bekerja diperkotaan biasanya pedagang dan buruh.[33]
Menurut pendapat, Islam masuk ke Indonesia pada abad pertamaHijriyah atau abad ke 7 M.[34] hal ini didasarkan padapenemuan batu nisan yang bernama Fatimah Binti Maimun (475 H atau 1082 M) diLeran dekat Surabaya. [35] adapun daerah pertamayang dikunjungi adalah pesisir utara pulau Sumatra, di Aceh Timur Peureulakyang kemudian meluas hingga aceh Utara dan mendirikan kerajaan Samudra Pasai.[36]

  1. Kemajuan Ilmu Agama
Penyebaran Islam di Asia Tenggara yang tidak terlepas dari kaumpedagang Muslim. Hingga kontrol ekonomi pun di monopoli oleh mereka. Disampingitu pengaruh ajaran Islam sendiri telah mempengaruhi berbagai aspek kehidupanMasyarakat Asia Tenggara.
Pada saat penyebaran Islamdi Asia Tenggara, lambat laun sudah ada lembaga pendidikan yang disebut denganpondok. Pondok merupakan tempat persemaian radikalisme dan aktifitas politik.Akan tetapi bagi orang Melayu-Muslim, pondok dan penghuninya merupakan suatukomunitas sacral yang misinya adalah untuk menyampaikan Islam sejati kepadamasyarakat marginal.[37]
Darimasyarakat yang telah di-Islamkan dengan sedikit muatan lokal. Islamisasi darikawasan Asia Tenggara ini membawa persamaan di bidang pendidikan. Pendidikantidak lagi menjadi hak istimewa kaum bangsawan. Setiap Muslim diharapkan mampumembaca al Qur’an dan memahami asas-asas Islam secara rasional dan dan denganbelajar huruf Arab diperkenalkan dan digunakan di seluruh wilayah. Sejumlahkarya bermutu di bidang teologi, hukum, sastra dan sejarah, segera bermunculan.System pendidikan Islam kemudian segera di rancang. Hubungan dengan pusat-pusatpendidikan di Dunia Islam segera di bina. Tradisi pengajaran Paripatetis yangmendahului kedatangan Islam di wilayah ini tetap berlangsung.[38]
Adanya tulisan. Agama Islammemperkenalkan tulisan wahyu, yang mana pada saat itu masyarakat belum mengenaltulisan.terutama dalam penulisan kitab suci yang menggunakan bahasa yang tidakmereka kuasai. Selain itu adanya system hafalan. Pada masa perubahan agamaIslam dan Kristianisasi menghasilkan teks-teks baru dalam berbagai bahasa AsiaTenggara. Teks-teks tersebut ditulis untuk menyebarkan kebenaran-kebenaranagama. Dalam Islam sendiri sangat menekankan hafalan, khususnya untukkepentingan pelaksanaan ibadah-ibadah seperti shalat.[39]
Islam yang ditawarkan kepada orang Asia Tenggara dari abad ke 14sampai 17 terutama dalam bentuk mistik yang dibawa oleh kaum sufi. Selama periodeperalihan menjadi Islam secara besar-besaran di Asia Tenggara, sufisme padaaras populer menjadi alat untuk menghubungkan individu dengan kekuatan-kekuatanspiritual dari orang suci, nabi, pemuka spiritual, pendiri tarekat, danlainnya, yang mana tergambarkan dalam berbagai mukjizat. Tarekat-tarekat sufipaling awal di Asia tampaknya tidak memiliki struktur ketat dibandingkan denganbagian dunia lainnya. Sebuah kitab penuntun moral kalangan muslim Jawa abad 16memperingatkan para pembacanya agar waspada terhadap aliran Qadariyah, yangdituliskan dalam kitab tersebut “sungguh musyrik untuk mengatakan bahwa paraimam besar lebih tinggi dari pasa nabi, terutama jika menempatkan para walidiatas Nabi Muhammad SAW” (Drewes 1978: 38-39). [40]
Sedangkan dalam bukunya Mafri Amir menjelaskan bahawa (untukmasalah teologisnya) umat Islam pada zaman klasik bisa maju karena mengikutifaham Qadariyah. Sedangkan pada zaman pertengahan mengelami kemundurandisebabkan karena mereka mengikuti faha Jabariyah. Pada zaman Islam klasiksendiri ajaran tasawuf lah yang berkembang. Sedangkan pada zaman pertengahantasawuf berubah menjadi tarekat.[41]
Secara ringkas, teori Taufuik Abdullah tentang gelombang-gelombangdinamika social dan intelektual terdiri dari:[42]
1) Gelombang penyebaran Islam di Nusantara ketika Islam di Arabiatelah “lulus ujian” menghadapi pemikir Persia, Hellenisme, India, danlain-lain, yang disebut sebagai “dunia fana yang kosmopolitan”.
2) Ketika Islam semakin menyebar dari Timur Tengah ke tempat-tempatlain dengan membawa pemikiran ortodoksi sehingga menghasilkan apa yang disebutsebarai “Islamisasi realitas”.
3) Gelombang akselerasi ortodoksi khususnya melalui “proses ortodoksifiqih”.
4) Gelombang modernism dengan intelektualitas bercorak politis danpan-Islamis.
5) Gelombang neo-modernisme kontemporer.
Pada abad ke 16 sampai akhir abad 19 talah muncul tonggak-tonggakIntelektualitas, melalui berbagai karya monumental. Sedangkan pada abad 17 kitamengenal dua gelombang intelektualitas, yakni gelombang Hamzah Fansuri danSyamsudin Sumtrani dengan konsep wahdatulwujud yang kental. Seperti Nuruddinal-Raniri, Abdurrauf Singkel, dan Muhammad Yusuf al-Maqassari merupakan sufidan ahli fikih. Al-Raniri selainmenghasilkan banyak karya dalam bidang tasawuf. Serta para intelektual lainnya.[43]
Gelombang intelektualitas ini berlanjut pada abad ke 18 dan 19,yang memunculkan pemikir-ulama seperi Abdusshamad al-Palimbani (1704-1789),Daud Bin Abdullah al-Pattani (1850), M. Arsyad Banjari, M. Nafis al-Banjari,Nawawi al Bantani (1813-1897), dan banyak lagi. Berbagai karya pemikir danulama membuktikan, bahwa mereka bukan sekedar konsumen pemikiran Islam yangberkembang di Timur Tengah. Mereka telah menjadi produsen yang bukan sekedarprodusen.[44]
Kebangkitan Islam di Asia Tenggara pada abad 20 dapat dilihat darimunculnya intelektual-intelektual Islam seperti Daud Pattani, Tok Kenali,Sayyid Syaikh al-Hadi, dan Tahie Jallaluddin. Mereka merupakan penggerakkebangkitan Islam pertama yang menyerukan kembali Al-Quran dan Sunnah. Generasipertama ini diarahkan pada masalah yang menyangkut dentitas muslim danperjuangan kaum muslim bagi kemerdekaan. Adapun yang generasi kedua lebih terlibat secara mendalam dengan seluruhmasalah yang menyangkut karakter dan arah masyarakat muslim.[45]





Bab IV
Penutup
Demikianlahmakalah ini penulis susun. Apabila ada kesalahandalam penulisan dan isinya, saran dankritik yang bersifat konstruktif dari para pembacasangat penulis butuhkan demi kesempurnaan makalah ini. Tidak ada yang sempurnadi dunia ini kecuali Allah Dzat Yang Maha Sempurna. Semoga makalah ini dapatbermanfaat bagi kita semua. Amien

Daftar pustaka

Abdullah,Taufik, 1993, Ke Arah Sejarah Pemikiran Islam di Asia Tenggara, Sebuah Pelancongan Geografi Pada Sejarah,Pemikiran, Rekontruksi Dan Persepsi, Jakarta: Gramedia.
,1989, Tradisi Dan Kebangkitan Islam DiAsia Tenggara, Jakarta: LP3ES.
Yatim, Badri, 2003, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Reid, Anthony , 2004,Sejarah Modern Awal Asia Tenggara,Jakarta: Pustaka LP3ES.
Wahyu Illahi dan Harjani Hefni, 2007, Pengantar Sejarah Dakwah,Jakarta:Kencana.
Azra, Azyumardi, 2000, Renasains Islam Asia tenggara, Bandung:Remaja Rosda Karya.
Amin,Samsul Munir, 2009,Sejarah PeradabanIslam, Jakarta: Amzah.
Hamka, 1976,Sejarah Umat Islam, IV, Jakarta: Bulan Bintang.
Muljana, Slamet, 2007, Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa Dan TimbulnyaNegara Negara Islam Di Nusantara, Yogyakarta: LKiS.
Pradja, Juhaya S.,1991, “Kajian Politik Hokum Islam TentangKetatanegaraan (Tinjauan FilsafatHokum Islam)” Orasi Ilmiah.
Ibrahim, Ahmad , 1989, Islam Di Asia Tenggara, Perspektif Sejarah,Jakarta: LP3ES.
Seddik Taouti, Muslim Kamboja Dan Vietnam Yang Terlupakan.
Anwar, Zinah , 1990, Kebangkitan Islam Di Malaysia, Jakarta:LP3ES.
Troung, Thanh-Dam,1992, Seks, Uang, Dan Kekuasaan,Pariwasata, Dan Pelacuran Di Asia Tenggara, Jakarta: LP3ES.
Ramlee Muhammad Iskandar, 1990, MuslimMelayu Pattani Thailand Selatan.
Hooker, M.B., 1984, Islamic Law In South –East Asia, East AsiaSocial Science Monograph, Singapore: oxford University Press.
Muzani, Saiful, 1993, Pembangunan Dan Kebangkitan Islam Di AsiaTenggara,Jakarta: PT. Pustaka LP3ES.
Ali M, Daud, 1995, Hokum Islam Pengantar:Hukum dan Tata HukumIslam di Indonesia, Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Muchtarom, Zaini, 1988, Santri Dan Abangan Di Jawa, Jakarta:INIS.
Pitsuwan, Surin, 1989, Islam Di Muangthai, Jakarta:LP3ES.
Amir, Mafri, 2008, Reformasi Islam Dunia Melayu-Indonesia,Jakarta: BAdan Litbang danDiklat Departemen Agama RI.

[1]Taufik Abdullah, Ke Arah Sejarah Pemikiran Islam di AsiaTenggara, Sebuah Pelancongan GeografiPada Sejarah, Pemikiran, Rekontruksi Dan Persepsi, Jakarta: Gramedia, 1993,hlm. 1-11.
[2]Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: PTRaja Grafindo Persada, 2003, cet.15, Hlm. 176.
[3]Anthony Reid, Sejarah Modern Awal Asia Tenggara,Jakarta: Pustaka LP3ES, 2004, cet. 1 Hal.XX
[4]Wahyu Illahi danHarjani Hefni, Pengantar Sejarah Dakwah,Jakarta:Kencana, 2007, hlm.155
[5] Ibid. hlm. 154
[6] Azyumardi Azra, Renasains Islam Asia tenggara, Bandung:Remaja Rosda Karya, 2000, hlm. 32
[7]Ibid.
[9]Samsul Munir Amin, Sejarah Peradaban Islam, Jakarta: Amzah,2009, cet. 1, hlm. 324-325.
[10]Ahmad Ibrahim, Islam Di Asia Tenggara, Perspektif Sejarah,Jakarta: LP3ES, 1989, cet.1 hlm. 52-54.
[11] Hamka, Sejarah Umat Islam, IV, Jakarta: BulanBIntang, 1976, hlm. 89.
[12]Slamet Muljana, Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa Dan TimbulnyaNegara Negara Islam Di Nusantara, Yogyakarta: LKiS, 2007, hlm. 152.
[13]Op. cit. Samsul MunirAmin, Sejarah Peradaban Islam. Hlm.326-327.
[14]Taufik Abdullah, Tradisi Dan Kebangkitan Islam Di AsiaTenggara, Jakarta: LP3ES, 1989, cet. 1, hlm. 72.
[15] Loc.cit. Samsul MunirAmin, Sejarah Peradaban Islam. Hlm.327.
[16]Ibid. hlm.329
[17] Op.cit. Hamka, Sejarah Umat Islam, hlm. 213
[18] Op.cit. Samsul Munir Amin, Sejarah Peradaban Islam. Hlm. 330
[19]Juhaya S. Pradja, “Kajian Politik Hokum Islam TentangKetatanegaraan (Tinjauan FilsafatHokum Islam)” Orasi Ilmiah, 1991. Diterbitkan juga oleh Warta Kopertais,Nomor 1, 1992, hkl. 69-83.
[20] Ibid.
[21]Op.cit. Ahmad Ibrahim. hlm. 95-96.
[22] Zinah Anwar, Kebangkitan Islam Di Malaysia, Jakarta:LP3ES, 1990, cet. 1, Hlm. 71
[23]Op. Cit, AhmadIbrahim, hlm. 113-115
[24] Thanh-Dam Troung, Seks, Uang, Dan Kekuasaan, Pariwasata, DanPelacuran Di Asia Tenggara, Jakarta: LP3ES, 1992, cet. 1. Op.cit. AjidThohir, hlm. 273.
[25]Ramlee Muhammad Iskandar,Muslim Melayu Pattani Thailand Selatan,1990, ibid. 274
[26]Ibid.
[27]M.B. Hooker, Islamic Law In South –East Asia, East AsiaSocial Science Monograph, Singapore: oxford University Press, 1984, hlm.175-178 , loc.cit. Ajid Thohit, hlm. 276
[28]Ibid.
[29]Seddik Taouti, Muslim Kamboja Dan Vietnam Yang Terlupakan,dalam Ahmad Ibrahim. Op.cit. 132-144.
[30] Ibid. 136
[31]Op.cit. Ajid Thohir.Hlm. 284
[32]Loc. Cit SeddikTaouti. 142.
[33]Saiful Muzani, Pembangunan Dan Kebangkitan Islam Di AsiaTenggara,Jakarta: PT. Pustaka LP3ES, 1993, cet. 1, hlm. 41.
[34] Daud Ali M, Hokum Islam Pengantar:Hukum dan Tata HukumIslam di Indonesia, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1995. Hlm. 209.
[35]Zaini Muchtarom, Santri Dan Abangan Di Jawa, Jakarta:INIS, 1988, hlm. 16.
[36]Loc.cit. Daud Ali,hlm. 209.
[37] Geertz (1960:121-130)Surin Pitsuwan, Islam Di Muangthai,Jakarta:LP3ES, 1989, cet.1, hlm. 138-139
[39] Op. cit. AzyumardiAzra, Renasains Islam Asia tenggara, Hlm. 63-64
[40]Op. cit. Anthony Reid,Sejarah Modern Awal Asia Tenggara, Hlm.25-27 77
[41]Mafri Amir, Reformasi Islam Dunia Melayu-Indonesia,Jakarta:BAdan Litbang dan Diklat Departemen Agama RI, 2008, cet.1, hlm. 104-106.
[42]Ibid. Hlm. XV-XVI
[43]Ibid.
[44]Ibid.
[45]Saiful Muzani, Pembangunan Dan Kebangkitan Islam Di AsiaTenggara,Jakarta: PT. Pustaka LP3ES, 1993, cet. 1, Hlm. 60

Tidak ada komentar: