Minggu, 31 Oktober 2010

teropong


Teleskop atau teropong
adalah instrumen pengamatan yang berfungsi mengumpulkan radiasi elektromagnetik dan sekaligus membentuk citra dari benda yang diamati. Teleskop merupakan alat paling penting dalam pengamatan astronomi. Jenis teleskop (biasanya optik) yang dipakai untuk maksud bukan astronomis antara lain adalah transit, monokular, binokular, lensa kamera, atau keker. Teleskop memperbesar ukuran sudut benda, dan juga kecerahannya.
Galileo diakui menjadi yang pertama dalam menggunakan teleskop untuk maksud astronomis. Pada awalnya teleskop dibuat hanya dalam rentang panjang gelombang tampak saja (seperti yang dibuat oleh Galileo, Newton, Foucault, Hale, Meinel, dan lainnya), kemudian berkembang ke panjang gelombang radio setelah tahun 1945, dan kini teleskop meliput seluruh spektrum elektromagnetik setelah makin majunya penjelajahan angkasa setelah tahun 1960.
Penemuan atau prediksi akan adanya pembawa informasi lain (gelombang gravitasi dan neutrino) membuka spekulasi untuk membangun sistem deteksi bentuk energi tersebut dengan peranan yang sama dengan teleskop klasik. Kini sudah umum untuk menyebut teleskop gelombang gravitasi atau pun teleskop partikel berenergi tinggi
Refraktor ganda Zeiss
adalah teleskop paling besar yang ada di Observatorium Bosscha. Teleskop ini adalah jenis teleskop refraktor buatan Carl Zeiss Jena, sebuah pabrik pembuat alat optik terkenal di kota Jena, Jerman. Refraktor berarti bahwa teleskop tersebut menggunakan lensa (cembung) untuk mengumpulkan cahaya. Dikatakan ganda, karena di dalam tabung teleskop, sebenarnya terdapat dua buah teleskop yang masing-masing berdiameter 60 cm. Kedua teleskop tersebut adalah:
1. Teleskop visual, sensitif pada panjang gelombang kuning/hijau, dengan titik api 10,78 m.
2. Teleskop fotografi, sensitif pada panjang gelombang biru, dengan titik api 10,72 m.
Teleskop Zeiss ini memiliki daya pisah (resolving power) sebesar 0,23" dengan magnitudo terlemah yang masih bisa diamati (limiting magnitud) sebesar 14,6. Teleskop ini mulai beroperasi tahun 1928.
Teleskop Zeiss berada dalam sebuah gedung dengan kubah yang dapat berputar 360°. Pada kubah tersebut terdapat celah yang bisa membuka dan menutup (lihat gambar). Saat melakukan pengamatan, kubah diputar sedemikian rupa sehingga celah tersebut menghadap ke objek yang akan diamati. Dan teleskop diarahkan ke objek, mengamatinya lewat celah yang terbuka tersebut. Untuk kenyamanan pengamat, lantai teleskop bisa dinaik-turunkan sedemikian rupa disesuaikan dengan posisi teleskop. Lantai yang berdiameter 11,0 m ini dapat dinaikkan maksimum sampai 3,8 m dari posisi terendahnya.
Untuk pengamatan astronomi, Teleskop Zeiss dilengkapi dengan:
 Planetary camera, untuk pengamatan planet
 Kisi-kisi difraksi yang dipasang di depan teleskop (di depan lensa objektif teleskop)
 Kamera CCD ST6 dengan sebuah unit PC. Dengan kamera CCD ini, Teleskop Zeiss dapat mengamati objek yang lebih lemah dari sebelumnya (dibandingkan dengan pengamatan fotografi biasa).
Dalam penelitian astronomi, Teleskop Zeiss ini dipergunakan untuk mengamati:
Bintang ganda visual
Penentuan paralaks
Gerak bintang/anggota gugus
Planet
Komet
Teleskop angkasa Hubble
adalah sebuah teleskop luar angkasa yang berada di orbit bumi. Nama Hubble diambil dari nama ilmuwan terkenal Amerika, Edwin Hubble yang juga merupakan penemu hukum Hubble. Sebagian besar dari benda-benda angkasa yang telah berhasil diidentifikasi, adalah merupakan jasa teleskop Hubble.
Ukuran
Teleskop: Ketebalan mencapai 13,1 meter (43,5 kaki), berdiameter 4,27 meter (14,0 kaki) dan memiliki berat 11.000 kilogram. Ukuran Hubble hampir sama dengan sebuah bus sekolah. Tabung oranye yang ada pada teleskop adalah sumber tenaga Hubble.
Lensa: Lensa primer teleskop Hubble, berdiameter 2,4 m (8 kaki), dan beratnya mencapai 826 kilogram. Lensa ini terbuat dari kaca silika yang dilapisi oleh lapisan tipis aluminum murni untuk merefleksikan cahaya. Selain lapisan aluminum, lensanya juga memiliki lapisan magnesium fluorida yang berguna untuk mencegah oksidasi dan sinar ultraviolet (UV) dari matahari agar lensa tidak cepat rusak.
Cara kerja
Pertama-tama, Hubble menangkap gambar. Setelah diterima oleh teleskop, gambar tersebut akan diubah menjadi kode digital dan diradiasikan ke bumi dengan menggunakan antena yang memiliki kemampuan mengirimkan data 1 juta bit per detik. Setelah kode digital diterima oleh stasiun di bumi, kode itu akan diubah menjadi foto dan spektrograf (sebuah instrumen yang digunakan untuk mencatat spektrum astronomikal).
Teleskop ini dapat berjalan 5 mil per detik. Hubble dapat berkeliling lebih dari 150 juta mil per tahun (± 241 juta kilometer).
Teleskop radio
Saat ini Observatorium Bosscha telah memasuki era multiwavelength. Gelombang radio mulai dapat ditangkap dan dianalisis di Observatorium Bosscha
Teleskop radio Bosscha 2.3m adalah adalah instrumen radio jenis SRT (Small Radio Telescope) yang didesain oleh Observatorium MIT-Haystack dan dibuat oleh Cassi Corporation. Teleskop ini bekerja pada panjang gelombang 21 cm atau dalam rentang frekuensi 1400-1440 MHz. Dalam rentang frekluensi tersebut terdapat transisi garis hidrogen netral, sehingga teleskop ini sangat sesuai untuk pengamatan hidrogen netral, misalnya dalam galaksi kita, Bima Sakti. Selain itu, teleskop ini dapat digunakan untuk mengamati obyek-obyek jauh seperti ekstragalaksi dan kuasar. Matahari juga merupakan obyek yang menarik untuk ditelaah dalam panjang gelombang radio ini. Obyek eksotik, seperti pulsar, juga akan menjadi taget pengamatan dengan teleskop radio
Reflektor
adalah sebuah alat yang memantulkan cahaya, suara atau radiasi elektro-magnetis. Reflektor yang memantulkan cahaya sering disebut pula mata kucing. Sebuah reflektor yang memantulkan cahaya terdiri dari beberapa benda mirip cermin yang ditata menurut beberapa sudut tertentu.
Perbandingan Refraktor dan Relfektor
Kelemahan utama refraktor adalah fakta bahwa sinar difokuskan dengan cara dilewatkan melalui medium, dalam hal ini lensa. Indeks bias yang mempengaruhi arah pembelokkan cahaya berbeda-beda untuk setiap warna, sehingga sebenarnya ada banyak titik api untuk berbagai warna (yang letaknya cukup berdekatan), dengan fokus untuk cahaya biru lebih dekat ke lensa daripada fokus cahaya merah. Ini adalah cacat lensa yang disebut aberasi kromatis atau aberasi warna. Pelewatan cahaya melewati medium juga berarti material lensa harus homogen atau serbasama di setiap bagian lensa, dan keserbasamaan (homogenitas) ini makin sulit dipertahankan bisa ukuran lensa semakin besar.
Kelemahan kedua muncul dari pengandaian yang tidak sepenuhnya benar tentang jalannya sinar dari objek. Pada perhitungan fokus lensa kita hanya mengikutkan sinar-sinar yang berada di sekitar pusat lensa, tetapi sinar yang jatuh pada tepi lensa justru akan jatuh pada titik api yang berbeda, akibatnya citra yang berada pada tepi lensa tidak sepenuhnya tajam. Persoalan ini dinamakan aberasi sferis atau aberasi bola. Kedua persoalan ini dapat diatasi apabila kita menggunakan dua lensa yang disatukan sebagai lensa objektif, dan keduanya memiliki indeks bias dan bentuk permukaan lensa yang berbeda. Dengan demikian jalannya cahaya dapat dikoreksi, namun tetap saja solusi ini hanya terbatas pada panjang gelombang tertentu saja. Lensa-lensa terbesar mengalami kesulitan tambahan: karena mereka hanya bisa disangga pada tepiannya maka bagian tengah lensa cenderung berubah bentuk akibat tarikan gaya beratnya sendiri. Oleh karena itu lensa teleskop tidak dapat terlalu besar dan terlebih lagi biaya pembuatan refraktor sangat besar karena ada empat permukaan yang harus diasah: dua permukaan lensa objektif dan dua permukaan lensa okuler.
Dengan demikian kita dapat melihat bahwa Teleskop Reflektor lebih banyak memberikan keuntungan daripada Teleskop Refraktor. Cacat pada cermin dapat diatasi dengan cara yang lebih mudah. Sebagai tambahan, Cermin dapat ditopang dari bawah sehingga bentuk permukaan cermin tidak banyak berubah. Dengan keuntungan ini maka diameter teleskop reflektor dapat dibuat sangat besar dan itulah sebabnya mengapa teleskop-teleskop dengan diameter terbesar di dunia merupakan teleskop reflektor. Keuntungan berikutnya adalah hanya satu permukaan cermin yang perlu diasah (dua bila kita menggunakan Cassegrain) dan bukan empat seperti pada refraktor, sehingga praktis biaya pembuatannya lebih murah. Namun ini bukan berarti reflektor lebih unggul. Keuntungan reflektor, yaitu tidak harus melewati medium untuk memfokuskan cahaya, justru juga menjadi kelemahan. Permukaan cermin reflektor harus benar-benar akurat menyerupai parabola (atau bola), dan sedikit perubahan suhu dapat mengubah bentuk permukaan cermin. Perubahan suhu sedikit saja dapat terjadi pengerutan atau pemuaian pada permukaan cermin dan ini berarti membutuhkan pengawasan secara periodik, lain halnya dengan lensa yang tidak terlalu sensitif terhadap perubahan suhu.
Teleskop-teleskop terbesar di dunia, yang berdiameter di atas 1 m, adalah reflektor. Persoalan-persoalan optis dan mekanis yang timbul pada teleskop besar lebih mudah diselesaikan apabila berupa reflektor ketimbang refraktor. Berat kolektor (cermin atau lensa) meningkat seiring dengan meningkatnya diameter, dan kita mengetahui betapa sulitnya mempertahankan bentuk lensa. Dari sudut pandang optis, sulit pula membangun refraktor besar karena ketebalan lensa, dan juga besarnya serapan, semakin meningkat

Senin, 25 Oktober 2010

sundial ( penanggalan matahari )


Penanggalan Matahari
BAB I
Kata Pengantar
Kemunduran, kebangkitan, ekspansi dan berkembangnya islam dari zaman ke zaman senantiasa hadir dalam pembahasan di buku – buku klasik (sejarah islam) sebut saja “ buku sains islam yang mengagumkan “ dll.
Sejarah mengatakan bahwa pada abad pertengahan dunia islam telah memasukan astronomi sebagai bentuk sains matematik yang digunakan untuk menentukan waktu pada waktu itu. Dan pada waktu ini juga sudah banyak alat-alat pendukung astronomi yang digunakan, contohnya astrolabus, kuadrant dan termasuk sundials yang pertama terkenal di Eropa pada zaman nomaden dahulu kala.
Pada bab ini , Seperti yang telah kita ketahui bahwa dalam buku karya Rene R. J Rohr ini membahas beberapa bentuk sundial seperti yang telah kita simak pada dua minggu yang lalu dan begitu juga dengan dibahasnya bab 3 dan 4 pada minggu lalu cukup bagi kita untuk melanjutkan materi pada pembahasan yang kelima yaitu " penanggalan matahari" .
Seperti yang telah kita ketahui bahwa matahari , bumi , dan bulan mempunyai edaran masing-masing, baik rotasi dan evolusi. Dan hal ini menyebabkan data number astronomis yang kita kenal tidaklah selalu constant atau tetap. Seperti deklinasi matahari yang mana setiap harinya berubah, mulai dari + 230 27' sampai dengan - 230 27'. Dan begitu juga dengan data-data yang lainnya. Oleh karena itu pada bab kali ini sedikit kita akan mengungkap salah-satu cara untuk menentukan waktu dengan cara praktisi lapangan langsung.
BAB II
Rumusan Masalah
Dalam pembahasan kali ini supaya untuk memudahkan kita untuk sama-sama memahaminya ada baiknya kita selaku presentator mencantumkan beberapa rumusan masalah sebagai pedoman dalam memahami pembahsan kali ini, semoga menjadi barokah bagi temen-temen pembaca sekalian. Berikut rumusan masalahnya:
• Variasi deklinasi matahari dan pengaruhya terhadap sundial
• Penemuan kurva deklinasi
• Meridian
• Jam babylonic dan italic
• Penemuan dari garis jam babylonic dan italic
• Jam matahari sementara atau jam biblical dan jam matahari dan jam planetary
• Ketinggian dan azimut matahari
BAB III
Pembahasan
Kontektuals' translate
A. Variasi deklinasi matahari dan pengaruhnya terhadap sundial
Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa gerakan rotasi bumi membuat gerakan matahari harian terlihat membentuk sebuah lingkaran di sekeliling sumbu kutub utara. Dan dikarenakan lintasan tahunan bumi itu mengelilingi matahari, maka deklinasi matahari selalu bervariasi yaitu sekitar + 230 27 ' s/d - 230 27 ' . Jika bumi berlabel T dan matahari S pada figure 78. Dan permukaan yang dihasilkan setiap hari oleh TS garis lurus adalah revolusi kerucut dengan sudut yang besar, yang bentuknya bervariasi antara dua ekstrem ETE dan HTH (musim panas dan musim dingin). Pada sepanjang equinox (siang malam sama panjang) Selama melewat matahari pada gerak hariannya bayangan sebuah benda pada titik yang bersinar akan menggambarkan suatu kurva pada suatu meja hal ini merupakan persimpangan dari permukaan krucut sehari-hari dengan apa yang dibawah dials.
78figur 79figur

Kita mengetahui bahwa persimpangan suatu wahana dengan suatu kerucut revolusi adalah suatu lingkaran, elips, parabola, atau hiperbola, tergantung pada sudut yang membentuk sudut krucut ( lih. Figure 79) .
Pada zona kutub utara, antartika untuk dial horizontal maka bayangan elips jika D menggambarkan lingkaran yaitu jika dialnya tepat berada pada tiangnya. Dan untuk dial vertical maka kita akan mendapatkan hiperbola terbalik,. Sedangkan pada daerah yang sangat panas ( antara garis balik / tropis) maka dialnya akan membentuk hiperbola sementara dial vertikal dapat menunjukkan lingkaran, elips, parabola, atau hiperbola, tergantung pada deklinasinya dengan vertikal pertama. Dan pada daerah yang berhawa ( suhu ) maka hiperbola yang diperoleh adalah kedua data pada vertikal & horizontal .
Berbagai macam variasi deklinasi matahari akan menghasilkan hasil yang berbeda-beda pula empat jenis kurva yang selalu mungkin. Untuk dial equator (khatulistiwa ) yang setara dengan dial horizontal terletak di salah satu kutub, kurvanya berbentuk ellips atau lingkaran konsentris.
Secara theorically pergantian hari pada kurva bayangan dial adalah sarana untuk menentukan tanggal. Hal ini berdampak pada kurva yaitu kurva harus diperhaikan & dicek setiap harinya dan hal ini tidak praktis.
Meskipun demikian , pada masa lalu beberapa tanggal hari libur sudah dicatat seperti hari libur keagamaan, dan tanggal masuknya matahari ke berbagai zodiak yang ditunjukan pada berbagai dials. Dalam prakteknya ini melibatkan kurva yang dibentuk seharian yaitu 20 hari setiap bulan. Karena kurva ini tumpang tindih berpasangan, sesuai dengan declinations matahari sama, maka hanya tujuh kurva yang diperlukan.
Pada hakikatnya memang untuk kurva pada bulan Februari tanggal 21 dan 21 Oktober, Januari 21 dan 21 November, dan lain-lain adalah bersamaan waktunya. Kurva untuk Maret 21 dan 21 September, yaitu equinox, yang selama itu deklinasi matahari adalah nol, menandai batas-batas perubahan sifat melengkung dari hiperbola,aw kurva ini tumpang tindih garis lurus. Mereka diwakili dial equator yaitu yang telah dibahas sebelumnya.
Kurva didefinisikan busur bulanan atau harian atau kurva atau lengkungan atau kurva dari deklinasi. Mereka menentukan deklinasi sepertinya menentukan tanggal karena memang antara keduanya masih ada hubungannya.
Kemungkinan-kemungkinan demikian membuat suatu keuntungan dalam hal untuk membuat sundial yang lebih menarik dan instruktif. Karena memungkinkan kita untuk mengikuti pergeseran dan pergerakan bumi mengelilingi matahari. Disamping itu juga bisa mengetahui dari simbol manakah matahari akan masuk, mempermudah untuk menentukan dan membaca tanggal ( lih. Figure 80) serta table 4 akan memberikan rata-rata nilai deklinasi matahari sepanjang tahunnya. Hal ini digunakan untuk mencari busur harian yang digunakan untuk membuat Gnomonic.

B. PENEMUAN KURVA DEKLINASI
Banyaknya busur krucut , pada perpotongan bidang (meja) adalah ditentukan, dan jumlah nomornya hanya ada 6 . krucut pusat adalah sebuah kerucut dengan 900 celah dan sebuah bidang yang tegak lurus terhadap gaya, memotong tabel dial di equatorial. Adapun untuk membuat gambar kurva tersebut amatlah sederhana dan praktis.
Figure 81 figure 82
Pada Gambar di atas, CS adalah corak gaya dan S adalah ujungnya, dan kita ibaratkan bahwa batang-batang SP, SQ, dan SR mewakili sinar matahari disiang hari (sama untuk setiap jam) selama waktu titik balik matahari musim panas (equinox) dan titik balik matahari pada musim dingin. Perpanjangan sinar-sinar ini tampak pada bidang atau symbol P',Q' and R'. selama gerak matahari harian masing-masing sinar ini menggambarkan suatu kerucut revolusi di ruang angkasa dengan berputar pada CS . Seperti biasanya, dalam perjalan sehari - hari kita selalu mengabaikan bahwa deklinasi matahari itu bervariasi dan menganggap bahwa deklinasi matahari itu selalu sama atau tetap. Dalam hal ini titik P, Q, dan R masing - masing menggambarkan sebuah cabang dari sebuah hiperbola.
Pada saat equinox, seperti yang telah dikatakan sebelumnya bahwa deklinasinya adalah nol, yang berarti bahwa SQ adalah bergerak tegak lurus dengan CS dan titik Q bergerak lurus sepanjang khatulistiwa.
Disisi lain titik angel PSQ dan QSR adalah samadengan deklinasi matahari pada saat hari-hari di equinox yakni berkisar antara + 230 27' dan - 230 27' . kemudian kita dapat membuat beberapa instrument lain disekeliling gaya yaitu dengan menarik atau membawa sinar SP,SQ,dan SR sebagaimana hiperbola yang lainnya dibentuk pada bidang dial dan sebagaimana yang telah diketahui bahwa jumlahnya biasanya dikurangi menjadi tujuh, dan itu termasuk equinoctial berlapis lurus kurva.
Instrument atau alat ini disebut "trigon" yang mana bentuknya tersebut diambil dargnomonic. Figur 82 salah satu bentuknya dari kayu sederhana dan mempunyai gaya yang tetap yang diikat dengan dua tali kuningan dimana gaya itu benar- benar tertanam pada ujung titik "T" besi terpasang seutas benang dan ada sebuah lobang yang harus dibuat pada kayu trigon untuk tempat masuknya gaya sehingga sumbu sejajar dengan bidang yang membawa skala sudut trigon atau tanda-tanda Ekliptika. Sebuah sekrup untuk memperbaiki titik " V " yaitu bagian bawah trigon yaitu untuk mengatur atau meletakan benda pada posisinya.
Figure 83
Sebuah Protactor biasa mungkin bisa berubah menjadi trigon dengan sedikit modifikasi. Dan ini akan memberikan kurva untuk beberapa deklinasi matahari.. Ketika dial harus ditarik dengan bantuan sebuah epure, hasil yang sama dapat diperoleh dengan metode grafis murni. Seperti biasanya kita akan memproses lanjutan dengan proyeksi. Asumsikan kita mempunyai sebuah bangunan dial seperti figure 83 , di mana CS adalah proyeksi dari gaya (h tinggi dari ujung atas bidang meja yang diwakili oleh SS "di projectionis sudah diketahui) dan CH adalah line setiap jam dimana kita akan mencari perpotongan kurva harian.
Tujuh garis yang digambar pada bidang didefinisikan titik S dan garis lurus CH; salah satunya, yang sesuai dengan equinoxes, tegak lurus terhadap sumbu CS, sementara yang lain membuat sudut dengan masing-masing sama dengan deklinasi matahari pada tanggal dua puluh - hari pertama dari variasi bulan.
Kita membuat garis CH garis tegak lurus terhadap SK dan gambar SS '= h tegak lurus terhadap SK. Kemudian KS' adalah panjang dalam tiga dimensi dari garis lurus KS. Dalam rangka untuk memutar CH dan mendapatkan proyeksi s’ s”, kita hanya perlu menarik dari lingkaran s 's" bidang, dengan pusat K, yang memenuhi perluasan KS di S". Proyeksi itu adalah CS ". Kita menelusuri S "D dari equinoks pada S", dan menarik dari S "D suatu sudut dari sisi-sisinya yang memotong deklinasi CH di titik-titik A, B, O, E, F, dan G, yang ia membentuk titik kurva yang dikehendaki. Dengan Mengulangi konstruksi ini untuk berbagai macam jam-garis-garis pada dial (dan di mana perlu, untuk kasus tambahan beberapa baris dalam interval yang terlalu jauh), kita memperoleh Poin set lain, yang masing-masing sesuai dengan kurva tertentu. Mencari kurva dapat dilakukan dengan tangan atau lebih mudah dengan bantuan alat yang sesuai untuk menggambar kurva.
C. MERIDIAN
Seperti yang telah kita ketahui bahwa maen time itu tidaklah tepat seperti waktu yang sebenarnya,hal ini dikarenakan bentuk ellips nya orbit bumi dan juga kemiringan terhadap khatulistiwa; dimana perbedaan kedua variable ini adalah kalau variable yang disebut equation of time ( prata waktu) apabila kita akan mendapatkan rata rata waktu setempat pada pembacaan dial maka seperti yang sudah lazim maka kita harus menambah atau mengurangi kuantitas variable ini dari waktu yang sesungguhnya dari dial tersebut. tergantung pada apakah positif atau negative nialinya. Sebuah plot pada gambar 22 atau tabel (tabel 3) dapat digunakan untuk memperoleh nilai pada saat pengamatan. Tetapi lebih jelas kita dapat melihat bayangan gaya di bantalan dial busur harian. Data dimasukkan pada dial, maka mean timenya akan bias terbaca dan secara langsung kita dapat mengetahui meantime secara langsung dari dial.
Pada hakikatnya untuk menemukan kapan noon atau pertengahan dari suatu hari, hanya dengan menarik garis pada busur yang sesuai setiap hari dari jam-garis dari tengah hari dan pada arah yang tepat. sehingga bayangan menunjukkan tengah hari pada saat mencapai akhir baris yang digambarkan. Jarak antara baris ini dan siang jam-baris adalah untuk setiap harinya, yaitu pada busur setiap hari, sama dengan equation of time (persamaan waktu) hari itu.
Bayangkan kita sudah menarik busur dial harian pada setipa haripada waktu selama satu tahun. Sebagaimana yang akan kita jelaskan bahwa jam baris pada sisi yang lain dari garis tengah hari. Dan setelah kita drawn atau menggambarkan prata waktu ( equation of time) , maka kita akan menemukan mean local siang yaitu dari bayang-bayang gaya.
Kurva disamping mengasumsikan bentuk gambar bentuk angka 8 seperti yang ditunjukkan pada Gambar 84. Secara teoritis untuk mendapatkan waktu rata-rata pada jam yang sebenarnya maka kita harus membawa kurva seperti pada setiap jam-baris Hal ini, pada kenyataannya, telah banyak dilakukan untuk beberapa dial. Dalam prakteknya. Hanya saja kita yang berpuas diri pada grafik yang bisa secara langsung membacakan data pada setiap tahunnya.
Untuk mendapatkan kurva, jam-garis yang digambar pada interval 5 menit di sekitar garis tengah hari; ini memberikan enam garis dari semua persamaan waktu yang kadang sampai 16 menit. Busur harian untuk tanggal 10 hari terpisah, yaitu dua interpolasi untuk setiap bulan, mungkin akan disisipkan pada pandangan antara tujuh busur harian utama yang cukup tanpa kesalahan, kemudian nilai equation of time (persamaan waktu) yang disediakan meja akan ditransfer ke garis ini, garis dan busur
Terkadang kurva tidak simetris, hal ini tergantung pada skala jam, yaitu pada jam yang lebar maka sudut diberbagai tanggal akan terbentuk secara umum atau kurang diubah sesuai dengan arah variabel busur harian pada permukaan dial. Hal ini tidak simetris, bahkan pada meridian atau dial horizontal sudut sudut tersebut simetris. Empat titik persimpangan dengan garis tengah hari menunjukkan poin dan tanggal di mana persamaan waktu adalah nol..
Selama setiap busur memotong di dua titik cabang yang mengacu pada tanggal yang bersangkutan harus ditunjukkan tanpa ambiguitas. Hal ini menunjukan bahwa sifat dekoratif tanda tanda zodiac telah digunakan dalam membuat atau menciptakan sundials. Tanda tanda tersebut diletakan pada kurva di tempat tempat yang cocok yaitu menunjukan perpindahan matahari( dekat meridian). Pada jarak yang sama dari busur sehari-hari yang membuat batas waktu surya transit ke masing-masing. Kadang-kadang jumlah bulan dalam angka Romawi atau bahkan nama-nama bulan atau musim diberikan sebagai gantinya.
Garis bujur ( meridian) dapat digunakan untuk menentukan waktu yang sebenarnya.yang mana berbeda dengan waktu setempat; hal ini karena adanya perbedaan bujur antara meridian lo0kal dengan meridian zona waktunya (dari mengamati dari zona waktu atau dari negara yang ditetapkan) yang dinyatakan dengan satuan waktu. Dalam hal ini, kurva penyamaan waktu harus diatur setiap sekitar satu jam ,batas jam dihapus pada garis tengah hari dengan jumlah waktu yang sama dalam perbedaan tersebut pada arah yang sesuai.lih figure 86.
Sebagai contoh, kita mengambil sebuah kota di Inggris dengan bujur timur. Pertama-tama kita memilih sebagai standar waktu hukum berdasarkan waktu musim dingin pada Greenwich meridian maka waktu yang digunakan di musim panas, sebagaiman yang kita ketahui bahwa jamnya maju satu jam. Anggaplah bahwa Ramsgate adalah kota yang dipilih. Bujur tempatnya adalah 1 º 25 'E atau 5 menit 40 detik pada waktunya. Ketika siang itu adalah benar-benar waktu lokal, yang bujur dari 5 menit 40 detik pertama-tama harus dikurangkan dari siang untuk mendapatkan waktu Greenwich yang benar (standar atau musim dingin); garis jam dari 11 jam 54 menit 20 detik karena itu adalah waktu tengah hari Greenwich yang sebenarnya.
Seolah-olah, selama pembuatan lempengan jam, kita putar lempengan jam dengan 5 menit 40 detik atau 1 º 25 'ke arah kiri, kita memperoleh epure garis tengah hari yang tepat, sehingga bagian dari bayangan menunjukkan jam siang menurut ketentuan hukum waktu. Telah dipahami bahwa pelengkap jam khatulistiwa yang dipasang dengan cara ini juga memberikan batas jam lain dengan pergeseran waktu yang sama. Untuk menggunakan jam ini untuk mengetahui waktu musim panas, penomoran dari jam harus ditingkatkan oleh satu dan pertengahan persamaan waktu dibawa ke garis tengah hari yang baru.
Gambar 86 menunjukkan sisi demi sisi, dengan meridian, garis tengah hari jam untuk ketentuan waktu, waktu lokal yang sebenarnya, dan waktu musim panas, masing-masing kita catat bahwa hanya garis tengah hari dari waktu sebenarnya dari vertikal. Dalam hal ini, jelaslah bahwa semua informasi ini sangat mengacaukan jam dan dapat menimbulkan kebingungan. Hanya satu dari garis ini biasanya dipertahankan dan secara umum, jarang sekali menunjukkan ketentuan hukum waktu. Namun, untuk daerah seperti Finistère di Perancis, dimana ada perbedaan besar antara waktu yang sebenarnya dan hukum waktu digunakan - waktu musim panas -, tampaknya mereka menggunakannya untuk beberapa keuntungan.
D. JAM BABILONYC DAN ITALI
Masyarakat babylonic yaitu siapa tempat kita berhutang karena mereka telah membagi waktu menjadi 24 jam yang dimulai dari sejak matahari terbit , sebaliknya orang itali mulai sejak matahari terbenam. Kedua metode ini telah digunakan sejak waktu dahulu kala. Metode babylonic digunakan oleh Yunani dan kepulauan Baleric. Sedangkan metode Italic digunakan dalam waktu Ghoethe; ia merujuk kepada hal itu dalam Italienische Reise. Metode ini telah digunakan di berbagai zaman (dalam jangka waktu yang sangat lama) di seluruh Eropa, dan di beberapa negara mereka dihapuskan lebih sedikit dari satu abad yang lalu, sehingga tak terhitung jam-jam Eropa tua yang dapat ditemukan sampai sekarang, yang merujuk pada Babylonic atau Jam Italic.
Di Jerman, terutama yang bermula di Nuremberg dan Swabia, kebiasaan ini muncul pada saat pencerahan penghitungan waktu dalam Jam Babylonic di siang hari dan Jam Italic pada malam hari, akibatnya pembagian asli menjadi 24 jam itu secara bertahap dibagi menjadi dua subdivisi dari 12 jam masing-masing, kebiasaan yang telah berlaku dan pernah ada yang telah menolak semua upaya perbaikan. Kami masih menemukan banyak jam baik dari Italic dan Jam Babylonic di banyak gereja, khususnya Strasbourg dan Basel. Orang yang lewat dan hanya melihat sekilas tetapi siap untuk mengakui bahwa mereka tidak mengerti dan kegunaan dan manfaat dari garis ini.
Hal yang benar apabila dikatakan bahwa jam- jam ini tidak praktis lagi dalam menunjukan waktu, namun hal yang baik apabila kita menggambarkan jam babylonic yang menampilkan asal usul mereka pada waktu matahari terbit dan kemudian sebuah Jam Italic pada garis yang berlawanan, sehingga garis yang menunjukkan matahari terbenam adalah garis 0, jam sebelumnya 1, dan seterusnya sampai jam 13, 14, dan 15 yang tercapai pada sisi kiri dari jam.
Jumlah jam berlalu sejak matahari terbit. Ini diperoleh dari Jam Babylonic. Yang pertama, yang mungkin tidak dapat ditemukan pada beberapa jam dimulai dari nilai tertentu penolakan mereka jika barat daya, adalah o jam, yaitu Jam Babylonic dari waktu matahari terbit; Jumlah jam tersisa sampai matahari terbenam, yaitu nomor yang ditunjukkan oleh posisi – dalam urutan terbalik seperti yang telah kita katakan – merupakan Jam Italic.
Panjang hari untuk tanggal yang bersangkutan diperoleh dengan menambahkan dua bersama-sama. Hal ini dapat dilakukan bahkan jika tidak ada matahari dan untuk setiap hari dalam setahun dengan mengambil sembarang titik pada busur sehari-hari yang kita menambahkan ke nilai-nilai yang ditunjukkan oleh dua jenis garis.
Titik perpotongan dengan pasangan dari dua jenis garis yang terletak di garis jam biasa dari lempeng jam atau apa yang disebut dengan garis astronomi. Titik perpotongan lainnya ditemukan di antara mereka di garis-garis setengah jam (biasanya tidak digambar) yang mereka buat berlebihan. Bebas dari matahari, lempeng jam, oleh karena itu, telah secara efektif berubah menjadi sempoa yang dapat digunakan untuk menentukan panjang hari untuk setiap hari dalam setahun. di tambahan, mulai dari garis tengah hari - di mana dua jenis perpotongan garis berpasangan – mungkin kita dapat menentukan secara langsung waktu sejati baik matahari terbit atau terbenam. Tidak ada keraguan bahwa jam membawa Jam Italic dan jam Babylonic. Dan menawarkan kekayaan informasi yang mungkin tidak diduga pada pandangan pertama.
Pada kenyataannya deklinasi matahari bersifat konstan sepanjang busur harian tertentu. pada perpotongan dua garis, oleh karena itu harus ditemukan secara otomatis pada busur harian yang sama, bahkan belakangan ini hal trsebut menunjukan jam atau waktu itu sendiri. Perpotongan tersebut membuat waktu pada katulistiwa antara siang dan malamnya adalah sama.

E. PENEMUAN GARIS JAM BABYLONIC & ITALIC

Praktis tracing
Prosedur praktisnya digambarkan sebagai berikut;
Kita berasumsi bahwa jam yang kita pakai mempunyai garis - garis jam yang biasanya yaitu jam astronomis.busur hari hari pada hari musim dingin dan hari pada musim panas pada waktu titik balik matahari dipraktiskan secara hati hati, bahkan mungkin lebih jauh kita asumsikan kita mengetahui waktu matahari terbit pada masing masing hari. Dan untuk menyusun ide ide ini kita sampelkan kita mengambil 7h 55m (waktu sebenarnya) untuk musim dingin solstice dan 3h 52m untuk titik balik matahari musim panas. Poin yang terkait dengan jam-baris 7h 55m, 8h 55m, 9h 55m, dan sebagainya, pada busur harian titik balik matahari musim dingin dan diperhitungkan dengan sangat hati-hati. Jika diperlukan ketelitian yang lebih besar, yang sesuai garis jam dan titik-titik perpotongan mereka dengan busur harian dapat dibangun dengan mengikuti prosedur yang sudah dijelaskan. Dengan cara yang sama kita menarik busur sehari-hari titik balik matahari musim panas pada garis jam 3h 52m, 4h 52m, 5h 52m, dll. Jam Babylonic yang diinginkan adalah garis-garis lurus yang menghubungkan titik-titik busur dari titik balik matahari musim dingin untuk 7h 52m, 8h 52m, 9h 52m, dll, kepada mereka dari titik balik matahari musim panas dari 3h 52m, 4h 52m, 5h 52m, dll. Kami memperoleh garis Jam Babylonic dengan cara ini atau, dengan kata lain, garis-garis yang menunjukkan jumlah jam berlalu sejak matahari terbit.
Dalam rangka untuk mendapatkan garis jam Italic yang tentu saja menunjukkan Jam Italic atau jumlah jam yang belum berlalu sampai matahari terbenam, kita lanjutkan dalam mode analog. Memang, kembali ke contoh kita, matahari terbenam di 8h 08m di malam hari pada hari titik balik matahari musim panas dan pada 4h 05m di sore hari musim dingin solstice. Seperti sebelumnya, kita menggambar titik-titik persimpangan dari garis jam 8h 08m, 7h 08m, 6h 08m, dll kepada orang-orang yang 4h 05m, 3h 05m, 2h 05m, dll pada busur sehari-hari musim panas dan musim dingin solstice . Dengan bergabung sesuai poin kita memperoleh kelompok garis-garis lurus yang mewakili garis jam Italic.
Untuk mendapatkan waktu sejati matahari terbit atau terbenam pada hari-hari dari titik balik matahari (dan juga untuk hari lain), kita dapat selalu menggunakan rumus, cos HA = tan ø tan D, di mana HA adalah jam-sudut matahari pada saat dari naik atau pengaturan, garis lintang ø, dan D deklinasi.

F. MEMBUAT JAM BANYLOIC DAN ITALIC DENGAN BANTUAN EPURE
Sebuah model yang mengurangi perhitungan pada bola yang memiliki ujung s dari gaya pembuatan pusat ditempatkan di depan piringan/lempengan (gambar 88).
figure 88
Dalam gambar, mari kita anggap bahwa si pengamat adalah ditempatkan di puncak ujung gaya. Dia melihat pesawat dari cakrawala sebagai lingkaran besar pada bidang gambar, di mana piringan menurun ke arah SE. Antara musim panas dan musim dingin solstices, matahari terbit di sektor cakrawala sudut yang terletak di dalam BSC. Bagian SM dari cakrawala menentukan pesawat dengan pusat s yang memotong sepanjang garis Babylonic order o. sepanjang hari, titik-titik B dan C menggambarkan dua lingkaran pada falak - daerah tropis - yang menunjukkan zona zodiak. Setiap titik dari busur dari lingkaran besar SM menggambarkan sepanjang zona ini sudut 15 °, 13 °, dan 45 ° sekitar sumbu kutub, dengan interval 1, 2, 3 jam, dan lain-lain pesawat ditentukan oleh masing-masing ini busur lingkaran dan pusat s memenuhi panggilan bidang sepanjang garis Babylonic urutan 1, 2, 3, dll Untuk menentukan salah satu dari baris-baris ini, itu sudah cukup untuk bergabung dua titik dari salah satu busur lingkaran untuk ujung s dan kemudian memperluas garis-garis lurus sehingga diperoleh sejauh dial, dimana mereka menentukan persimpangan Babylonic baris yang sesuai. Hal ini terbukti bahwa kita lebih suka untuk memilih dua titik baik di daerah tropis atau di daerah tropis dan khatulistiwa.
Dalam penjelasan berikut, kita telah demikian diproyeksikan segmen lingkaran besar yang sesuai dengan Babylonic ketiga jam, i. e., salah satu yang sesuai dengan rotasi 45 ° dari segmen SM di sekitar garis kutub. Kami telah melakukan hal yang sama untuk titik A terletak di khatulistiwa, meskipun tidak benar-benar diperlukan. The epure menunjukkan proyeksi akhir menciptakan tiga titik pada dial yang harus terletak di garis lurus karena hasil dari persimpangan dua pesawat.
Pada proyeksi 1 dari epure (gambar 89), si pengamat adalah di tak terhingga, pada garis kutub, dalam proyeksi 2, dia berada di diameter melewati titik vernal. Posisi masing-masing dari kedua proyeksi ditentukan oleh sudut ø (lintang) dalam 2 Cakrawala diwakili oleh garis lurus HH 'pada akhir proyeksi. Garis lurus EE 'dan KK' adalah proyeksi musim panas dan musim dingin titik balik matahari. Dalam menelusuri sebuah lingkaran dengan pusat S 'dan diameter EE' = KK 'yang menggambarkan proyeksi dari dua daerah tropis. Perpotongan cakrawala dengan 2 ketentuan daerah tropis BC yang diproyeksikan di dinding melalui titik S yang telah ditemukan. Garis proyeksi (sejajar ke S 'S ") memposisikan 1 pada bagaian B2C2 dapat disamakan dengan posisi 2 pada B1C1.
Pada abad-3 jam babylonic, bagian ini telah berputar dengan 3 x 15 º = 45 º, sekitar sumbu kutub (S'S ", dalam kasus kami). Oleh karena itu dalam proyeksi 1 kita memutar segmen B2C2 (diperoleh dari permulaan garis di B2C2) sebesar 45 º, dalam arah yang tepat di sekitar s '. Kami menarik proyeksi baru A 'B' C ', dalam dalam bentuk yang serupa dengan B2C2 dan kami mencari posisi 2 dengan bantuan garis-garis proyeksi yang baru, dengan cara B "A" C ". Sekarang mempertimbangkan proyeksi baru di mana pengamat berada di puncak, seperti pada Gambar 88 (yang akan dihasilkan dari proyeksi 3 jika yang kedua dilakukan untuk setiap jam dalam hari). Dinding ditarik dan kemudian lingkaran cakrawala yang bersinggungan dengan itu. Persimpangan QQ 'khatulistiwa dengan cakrawala membuat dinding ini di suatu sudut d yang sama dengan deklinasi dari jam.
Dalam upaya untuk menemukan titik yang berubah-ubah dan terletak di daerah tropis atau di khatulistiwa, kita menggunakan proyeksi 1 dan 2 yang memasok semua elemen yang diperlukan. Sebagai contoh, jarak dari A "ke ZZ 'dalam 3 dan jarak dari A' ke QQ 'dalam 1 sesuai dengan yang dari A" "untuk FF' dalam 3. Tentu saja kita perlu latihan untuk memvisualisasikan semua proyeksi ini dalam tiga deminsi untuk menghindari kesalahan. Demikian juga, kita tempatkan titik B ' "dan C'" di 3 dan kita menelusuri kurva B ' "A'" C ' ", yang merupakan segmen elips, dengan bantuan alat yang cocok untuk menggambar kurva.
Sekarang titik perpotongan dengan dinding sebuah kerucut mempunyai S ' "untuk petunjuk dan membuat garis yang terbentuk sepanjang segmen B'" A ' "C'" harus ditemukan. Kerucut ini, seperti yang dinyatakan sebelumnya, pada kenyataannya menjadi pesawat. Hal ini mengakibatkan proyeksi 4, citra jam. S adalah dipilih sebagai asal, posisi ortogonal proyeksi di ujung dinding, dan di atasnya kita membangun sebuah sistem koordinasi yang terdiri dari TH vertikal 'dan xx'.
Untuk mendapatkan 4, pengamat harus pindah ke lokasi pada dinding yang tegak lurus melalui s. agar lebih mudah untuk menemukan proyeksi ortogonal dari titik A ' "di dinding: kita mempunyai absis sebuah proyektor 3 (lihat gambar 89) dan koordinat C dalam proyeksi 2. ini akan menjadi titik A iv S. Kita tahu juga bahwa dalam memperluas garis lurus A ' "S'" ke dinding di 3, kita memperoleh abcissa dari titik a untuk mana kita melakukan pencarian dengan 4. Karena itu kita mengambil absis b dalam 4 dan menelusuri garis lurus yang A iv s yang memotong absis dalam A. Mengulangi operasi yang sama untuk B dan C, kami tidak (dan ini cek) bahwa titik-titik A, B, dan C berbaring, pada garis lurus dan titik B dan C adalah masing-masing pada titik Aries harian musim panas dan musim dingin titik balik matahari.
G. JAM MATAHARI SEMENTARA ATAU JAM BIBLICAL DAN JAM MATAHARI DAN JAM PLANETARY
Seperti yang kita tahu,bahwa siang hari berguna bagi bangsa-bangsa kuno di lembah Mediterania atau untuk orang lain pada masa itu. Selang waktu antara matahari terbit dan terbenam inti dibagi 12 jam; jika perlu, malam itu juga dibagi menjadi 12 jam oleh Clepsydra. Waktu-waktu Siang dan malam tidak memiliki panjang yang sama, kecuali selama equinox antara jam satu hari dan orang-orang hari berikutnya. Karena itu jam ini disebut sementara jam. Mereka juga disebut alkitabiah jam karena diasumsikan bahwa waktu yang disebutkan dalam Alkitab (injil) waktu sementara.
Beberapa abad pertengahan suach cepat seperti yang diperlihatkan dalam piring 4 ia dirancang untuk mengukur seperti jam. Ini cepat, yang hanya beberapa yang tersisa pada beberapa katedral, dipasang menghadap selatan sejati dan terdiri dari gaya lurus dan meja di mana jam-garis lurus dibagi setengah lingkaran dengan dial horisontal menjadi 6 atau 12 sama bagian yang menunjukkan interval waktu.
Di Eropa masih ada sundials tua yang menjelaskan pembagian ekstra siang ke jam sementara, mereka merupakan jam-garis, bersama dengan tujuh busur harian klasik, meja dari empu hari. Tabel yang ditunjukkan pada Gambar 91 menunjukkan dalam persegi panjang array nama-nama empu ini dan planet-planet yang mendominasi berbagai jam hari dalam seminggu. Seperti dial, yang disebut planet dial, masih dapat dilihat pada sebuah penginapan di desa di Tyrol prutz (foto 14 dan Gambar 90), titik bayangan yang menunjukkan jam masih ujung gaya. Kami tidak di sini juga bahwa juru gambar, meniru para pendahulunya abad pertengahan, menggantikan puas diri dengan kurva teoritis dari jam-garis dengan garis-garis lurus, melakukan, mungkin, tanpa pengetahuan, sedikit kesalahan. Perhatikan bahwa garis sementara 6 bertepatan dengan 12-jam-garis klasik memanggil dan bahwa garis-garis berpotongan di pasang pada garis equinox, seperti yang harus mereka lakukan. Lain dial paling penting dicatat dari tipe ini dipahat di dinding Gereja St Catherine di Oppenheim di Rhine (Jerman).
Membangun dial dengan jam sementara,satu menghitung interval waktu antara matahari terbit dan terbenam untuk hari terpanjang dan terpendek dalam setahun untuk lintang dipilih. Interval ini dibagi oleh 12, yang memberikan panjang jam sementara standar jam untuk dua hari ini. Tambahan, diulang 12 kali, dari masing-masing durasi jam untuk sementara waktu matahari terbit pada dua hari dalam memberi pertimbangan dua seri jam membagi terpanjang hari terpendek dalam setahun ke dalam sementara jam. Sebagai contoh, mari kita asumsikan bahwa matahari terbit di 3h 5 pada Juni 21 di tempat tersebut dan bahwa hal itu set pada 8h 08m, angka-angka yang sesuai untuk musim dingin solstice menjadi 7h 54M 4h 06m benar waktu. Panjang hari kemudian 16h 16m pada Juni 21 dan 8h 12mon Desember 23. On Juni 21, panjang jam sementara adalah (16h 16m) / 12 = 1h 21m 205; yaitu, sementara jam dan hari itu mulai dan berakhir pada
 3h 52m, 5h 13m 20s, 6h 34m 40s, 7h 56m, dll
Pada 23 Desember, situasinya adalah sebagai berikut:
Duration of the day: 8h 12m
Durasi dari jam sementara: (8h 12m) / 12 = 41 menit, sementara jam akan mulai dan berakhir.
 7h 54M, 8h 35m, 9h 57m, dll,
Jika kita menggambar garis jam-series pertama pada setiap hari adalah titik balik matahari musim panas dan orang-series kedua pada titik balik matahari musim dingin, dengan menggunakan dial khatulistiwa tambahan, kita memperoleh dua titik pada solstices untuk jam-line dari masing-masing sementara jam. Titik-titik ini bergabung dengan persimpangan jam standar-baris dengan garis equinox. Dial lempeng 14 tampaknya telah digambar dengan mengikuti prosedur ini.
Menunjukkan kurva ketinggian matahari yang hiperbola ditentukan oleh persimpangan di meja dengan revolusi kerucut memiliki s untuk mereka dan ujung sumbu vertikal. Seperti biasa, kami mengandalkan konstruksi oleh titik-titik dan proyeksi. Biarkan s menjadi proyeksi pada dial dari ujung s dari gaya lurus (gambar 93) dan s proyeksi di pesawat dari meja. Ss Panjang adalah jarak antara titik s dan meja. Biarkan D menjadi salah satu dari mereka azimut garis vertikal yang ditandai pada dial sebelumnya. Kita mencari titik-temu garis ini dengan cabang hiperbola yang menunjukkan ketinggian h dari matahari di atas cakrawala. Sisi miring dari segitiga s'ss adalah pada bidang horisontal akan thourgh s jarak dari s ke garis lurus D, jika kita sebut s 'persimpangan D dengan pesawat. Kami proyek s dan pesawat didefinisikan oleh D dan S di sekitar D dengan menelusuri suatu adalah lingkaran dengan jari-jari ss 'sekitar s, yang gines pada titik s s ". Di s" kita menelusuri, kali ini di pesawat diputar, sebuah sudut ss "p sama dengan jam, satu sisi yang memberikan titik yang dikehendaki p pada satu D. Dengan demikian kita memperoleh proyeksi pada p p yang pada titik persimpangan dari semua kurva yang kita ingin menarik dalam membuat berturut-turut di s" sudut 10 °, 20 °, 30 °, dll, serta intervensi sudut yang dikehendaki.
Proses dengan garis azimut yang lain seperti ‘D” ,maka kita akan memperoleh set poin lain juga. Lalu poin yang cocok hanya perlu bergabung dengan hiperbola untuk melacak obtin secara lengkap.

Key points
Cara memetakan deklinasi dengan kurva
Meantime tidak sama dengan waktu sebenarnya
Meridians dapat digunakan untuk menentukan waktu yang sebenarnya
Pada zaman dahulu ada dua macam bentuk metode jam yang sangat bertolak belakang yaitu jam Babylonic dan jam Italic

Analisis kelompok
Pada umumnya kita mengenal dua sistem kalender yaitu kalender matahari (kalender solar) dan kalender bulan (kalender lunar). Kalender matahari ditentukan berdasarkan peredaran bumi mengelilingi matahari (revolusi). Waktu yang diperlukan untuk satu kali revolusi adalah satu tahun kalender matahari, kira-kira 365 1/4 hari. Perubahan musim di bumi ditentukan oleh posisi bumi terhadap matahari, maka kalender matahari ini sesuai dengan perubahan
musim.

Contoh:
Pada saat matahari mencapai garis balik utara (tropic of Cancer),
kira-kira pada tanggal 21 Juni, belahan bumi selatan mengalami musim dingin, dan pada saat matahari mencapai garis balik selatan (tropic of Capicorn), kira-kira tanggal 22 Desember, bumi belahan utara mengalami musim dingin. Contoh kalender matahari adalah kalender Gregorian. Sedangkan kalender bulan berdasarkan peredaran bulan mengelilingi bumi. Waktu yang diperlukan untuk satu kali revolusi adalah satu bulan kalender bulan, kira-kira 29 1/2 hari. Contoh kalender bulan adalah kalender Hijriyah dan kalender Jawa.

Dalam pembuatan sundial deklinasi matahri pada khususnya sangatlah berpengaruh, dan adanya rotasi bumi mengelilingi matahari menyebabkan nilai deklinasi perharinya di dalam satu tahun selalu tidak sama.dan knapa pada tanggal 21 maret dan 21 september nilai deklinasi slalu berkisar nol,maka jawabannya karena pada saat itu matahari sedang berada di gris lurus khatulistiwa

Kamis, 14 Oktober 2010

hisab awal bulan qomariyah

NAMA : AHMAD MA’RUF MAGHFUR
NIM : 082111064
NO HP : 087832345681

Konversi tanggal 01 juli 2014
2013 x 365,2422 = 735232,5486
181 + 1 = 182 +
= 735414,5486
226660 -
508754,5486
508754,5486 x 354,3666 = 1435,672969 ( 1435 )
0,672969 x 354,3666 = 238 – 236(sya’ban) = 2 Romadhan
508754,5486 : 35 = 14535,84425
0,84425 x 35 = 30 (Selasa Legi )
Tanggal 1 juli 2014 = 2 ramadhan 1435
Maka tanggal 28 juli 2014 / 29 ramadhan 1435 = senin pon
Awal syawal = tanggal 29 juli 2014 ( selasa wage )

FIB terkecil pada tanggal 26 juli 2014

(1) ELM Jam 23 = 123*52’35”
ELM Jam 24 = 123*54’58”
B1 = 0*2’23”

(2) ALB Jam 23 = 124*0’2”
ALB Jam 24 = 124*29’46”
B2 = 0*29’44”

(3) ELM Jam 23 = 123*52’35”

ALB Jam 23 = 124*29’46”
MB = 0*7’27”

(4) B2 = 0*29’44”

B1 = 0*2’23”

SB = 0*27’21”


(5) Titik ijtima’ = MB : SB
= 0*16’20,62”
(6) FIB Terkecil = 23*0’0”
Titik ijtima’ = 0*16’20,62”
Ijtima’ = 23*16’20,62”
Ijtima’ WIB = 6*16’20,62”

(7) Perkiraan matahari terbenam untuk daerah kudus pada tanggal 29 juli 2014.
Q = -6*50’
@ = 110*50’
T = 890 m
& = 14*28’50”
e = -0*6’32”
Dip = 0,0293 x /’’890 = 0*52’26.77”
h = -(0*6’+ 0*34’30” + 0*52’26.77”)
= -1*42’56.77”
cos t = -tan Q tan & + sin h : cos Q : cos &
t = 90* 0’40.73”
12 – e = 12*6’32”
t : 15 = 6*o’2,72” +
= 18*6’34.72”
@ : 15 = 7*23’20” -
= 10*43’14.72” ( matahari terbenam ) GMT

(8) Data epimeris jam 10*43’14.72”

Deklinasi matahari ( &O )
&o Jam 10 = 19*11’14” > 19*11’14”
&o Jam 11 = 19*10’40 -
0*0’34”
0*43’14.72” x
0*0’24,51” > 0*0’24,51” -
= 19*10’49,49”
Semidiameter (SDo)
SD jam 10 = 0*15’44,93” > 0*15’44,93”
SD jam 11 = 0*15’44.94 -
-0*0’0.01”
0*43’14.72” x
-0*0’0.01” > -0*0’0.01”
= 0*15’44.94”
Equation of time ( e )
E jam 10 = -0*6’32” > -0*6’32”
E jam 11 = 0*6’32”
0
0*43’14.72” x
0
= -0*6’32”
(9) ho = - ( SD + 0*34’30” + Dip )
= -1*42’41.71”
(10) to = shift cos ( -tan Q tan & + sin ho : cos Q : cos &)
= 89*26’11.52”
(11) Ghurub = 12 – e + (to : 15) – (@:15)
= 10*40’56.77”
WIB + 7* = 17*40’56.77”
(12) AR o Jam 10 = 126*38’30” > 126*38’30”
ARo Jam 11 = 126*40’57” -
-0*2’27”
0*40’56.77” x
-0*1’32’’ > -0*1’32’’ -
= 126*40’10.3”
(13) ARC Jam 10 = 130*34’44” > 130*34’44”
ARC Jam 11 = 131*4’16” -
-0*29’32”
0*40’56.77” x
-0*20’9.28” > -0*20’9.28”
= 130*54’53.28”
(14) &c jam 10 = 13*15’48” > 13*15’48”
&c jam 11 = 13*8’49” -
0*6’59”
0*40’56.77” x
0*4’45,94” > 0*4’45,94”
= 13*11’2.06”
(15) SDo jam 10 = 0*14’42.22” > 0*14’42.22”
SDo jam 11 = 0*14’42.28” -
-0*0’0.04”
0*40’56.77”
-0*0’0.03” > -0*0’0.03”
= 0*14’42.19”
(16) HPc jam 10 = 0*53’58” > 0*53’58”
HPc jam 11 = 0*53’57”
0*0’0,01
0*40’56.77” x
0*0’0.68” > 0*0’0.68”
= 0*53’57.32”
(17) tc = RAo – RAc + to
= 85*11’28.54”
(18) hc = shift sin ( sin Q sin &c + cos Q cos &c cost c )
= 3*5’23.79”
(19) Pc = cos hc x HPc
= 0*53’52.61”
(20) ho = hc – Pc +SDc
= 2*26’13”
(21) Refr = 0,0167 : tan ( ho + 7.31 :( ho + 4.4))
= 0*16’21.2”
(22) hc = ho – Refr + Dip
= 3*35’1.34”
(23) NFc = Shift sin (( sin Q sin &c) : ( cos Q cos &c))
= -1*36’30.83”
(24) PNF = cos NFc x HPc
= 0*53’56.04”
(25) SBSH = 90 + NFc
= 88*23’29.17”

(26) SBSc = 90 + NFc – PNF +( SDc + 0,575 + Dip )
= 89*11’12.09”
(27) Lmc = ( SBSc – tc ) : 15
= 0*15’58.9”
(28) Terb = Ghurub + Lmc
= 17*56’55.67”
(29) Ao = Shift tan ( - sin Q : tan to + cos Q tan &o : sin to )
= 19*6’53”
(30) Ac = Shift tan ( - sin Q : tan tc + cos Q tan &c :sin to )
= 13*40’50.84”
(31) PHc = Ac – Ao
= -5*26’2.27”
(32) ATc = Shift tan ( - sin Q : tan SBSc + cos Q tan &c:sin SBSc )
= 13*11’11.54”
(33) FIB jam 10 = 0,00376 > 0,00376
FIB jam 11 = 0,00412 -
-0,00036
0*40’56.77” x
-0,00025 > -0,00025
= 0,00401
(34) NH = ( /”(PH2 + hc)) : 15
= 0.43
(35) MRG = ( PH : hc )
= -1*30’58.67”




Keterangan
Dari perhitungan di atas dapat kita ketahui bahwa ijtima’ menjelang bulan syawal 1435 H, terjadi pada hari senen pon tanggal 28 juli 2014. Jam 23:16:20.67 GMT atau jam 6:16:20.67.
Untuk lokasi kudus :
Matahari terbenam : 17:40:56.77
Arah matahari : 19:06:53.11
Tinggi hilal : 03:05:23.79
Arah hilal : 13:40:50.84
Posisi hilal : 05:26:2.27
Keadaan hilal : miring ke selatan
Lama hilal : 0:15:58.9
Hilal terbenam : 17:56:55.67
Arah terb hilal : 13:11:11.54
Illuminasi hilal : 0,0041
Nurul hilal : 0,4 jari
gambar

al goritma

ARTI KATA :
• Logika Hal-hal yang dapat diterima dan dimengerti oleh akal tepatnya logika itu kenyataan.
• Algoritma Urutan langkah-langkah logis dalam penyelesaian masalah dan disusun secara teratur dan sistematis.
• Program Sekumpulan Instruksi yang merupakan bagian2 dari penyelesaian masalah.
• Bhs.Program Bahasa yang digunakan untuk menulis program.
Kriteria Pemilihan Program
Dibawah ini adalah kriteria yang harus dimiliki oleh sebuah program yang akan di buat :
• Output Adalah Algoritma harus menghasilkan solusi dari masalah yang sedang diselesaikan.
• Efektifitas Adalah Algoritma harus menghasilkan solusi yang sesuai dengan masalah yang diselesaikan.
• Efisiensi Adalah Algoritma tidak boleh memakan memory dan waktu proses yang lama.
• Jumlah langkah berhingga Adalah Algoritma harus berhingga, sehingga jika telah mendapatkan solusi yang dibutuhkan maka proses tidak berlangsung terus menerus. (Tidak Looping)
• Berakhir Adalah Algoritma harus berakhir walau ada atau tidak adanya solusi.
• Terstruktur Adalah Algoritma harus Terurut secara teratur sehingga roses penyelesaian masalah tidak berbelit-belit.
Pembuatan FlowChart Standard
Flowchart adalah bagan atau struktur, diamana kita megurutkan proses-proses kinerja program yang akan kita buat.
Pembuatan FlowChart (Menghitung Luas Segi Tiga)
Mencari Luas Segi tiga

Input A (A = Alas), LET A
Input T (T = Tinggi), LET T
Hitung L ( L = (A * T)/2 ), Process
Cetak L (Hasil Luas), PRINT L
Hasil Cetak Jika (A=3 dan T=4) : 6
Pembuatan FlowChart (Bilangan Kuadrat)

Mencari Bilangan Kuadrat (Looping terus-menerus)
Line1 : A = 1
Line2 : A = A + 1
Line3 : B = A * A
Line4 : Print B
Kembali Ke Atas Setelah Line1
Hasil Cetak: 4 9 16 25 36 49 64 81 dan seterusnya
Mencari Bilangan Kuadrat (Looping Terbatas)
Line1 : Input Z (Z = Batas Perulangan)
Line2 : A = 1
Line3 : A = A + 1
Line4 : If A>Z maka (GoToSTop) jika tidak (GoToNextLine)
Line5 : B = A * A
Line6 : Print B
Kembali Ke Atas Setelah Line1
Hasil Cetak Jika (Z=5) : 4 9 16 25

Rabu, 07 Juli 2010

taqdir

Takdir
Makalah Ini Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Tafsir

Dosen Pengampu : Arif Junaidi, M Ag.










Disusun Oleh :
AHMAD MA'RUF MAGHFUR
082 111 064


KONSENTRASI ILMU FALAK
FAKULTAS SYARIAH IAIN WALISONGO SEMARANG
2010

pendahuluan

هُوَ الَّذِي يُصَوِّرُكُمْ فِي الْأَرْحَامِ كَيْفَ يَشَاءُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
Dialah yang membentuk kamu dalam rahim sebagaimana dikehendakinya. Tak ada Tuhan ( yang berhak disembah ) melainkan Dia yang maha perkaa lagi maha bijaksana.
Keimanan seorang mukmin yang benar harus mencakup enam rukun. Yang terakhir adalah beriman terhadap takdir Allah, baik takdir yang baik maupun takdir yang buruk. Salah memahami keimanan terhadap takdir dapat berakibat fatal, menyebabkan batalnya keimanan seseorang. Terdapat beberapa permasalahan yang harus dipahami oleh setiap muslim terkait masalah takdir ini. Semoga paparan ringkas ini dapat membantu kita untuk memahami keimanan yang benar terhadap takdir Allah. Wallahul musta’an.
Pembahasan
Dalam pembahasan takdir, kita sering mendengar istilah qodho’ dan qodar. Dua istilah yang serupa tapi tak sama. Mempunyai makna yang sama jika disebut salah satunya, namun memiliki makna yang berbeda tatkala disebutkan bersamaan. Jika disebutkan qodho’ saja maka mencakup makna qodar, demikian pula sebaliknya. Namun jika disebutkan bersamaan, maka qodho’ maknanya adalah sesuatu yang telah ditetapkan Allah pada makhluk-Nya, baik berupa penciptaan, peniadaan, maupun perubahan terhadap sesuatu. Sedangkan qodar maknanya adalah sesuatu yang telah ditentukan Allah sejak zaman azali. Dengan demikian qodar ada lebih dulu kemudian disusul dengan qodho’.
Makna lain dari qodho’ dan qodar
1. Kata Qadha’ wa Qadar dengan menggunakan wawu ‘athaf /(و) (qadha wa qadar) tidak terdapat dalam al-Quran. Dikarenakan, Al-Quran tidak pernah menggunakan istilah “qadha’” dan “qadar” secara bersamaan (qadha wa qadar), melainkan di dalam al-Quran hanya dikenal istilah “qadha’” saja dan “qadar” saja.
2. Makna Qadha’ dan Qadar dalam al-Quran berbeda dengan makna Qadha’ wa Qadar yang dimaksud oleh para ahli kalam, Qadha’ dan Qadar dalam al-Quran memiliki makna bahasa yang banyak, dan juga maknanya terkait dengan perbuatan-perbuatan Allah SWT, bukan perbuatan-perbuatan manusia beserta khasiyat-khasiyat yang ditimbulkannya, lihat semisal QS. 3:47; 6:2; 17:23; 33:36; 41:12; 8:42; 33:38; 89;16; 54:12; 41:10.
3. Dari sisi kemunculan istilah dan maknanya, Qadha’ wa Qadar yang dipakai ahli kalam adalah istilah yang sekadar diadopsi untuk menggantikan istilah “determinisme dan undeterminisme” atau “Keterpakasaan dan Kebebasan Memilih” pada perbuatan manusia.
4. Dari sisi Topik yang diperbincangkan, maka terma “Qadha’ wa Qadar” yang dikenalkan ahli kalam, topiknya mengenai perbuatan manusia dan khasiyat yang lahir dari perbuatan manusia. Sedangkan terma qadha’ dan qadar yang terdapat dalam al-Quran dan as-Sunnah memperbincangkan tentang sifat dan perbuatan Allah SWT.
Prinsip Keimanan kepada Takdir
Perlu kita ketahui bahwa keimanan terhadap takdir harus mencakup empat prinsip. Keempat prinsip ini harus diimani oleh setiap muslim.
Pertama: Mengimani bahwa Allah Ta’ala mengetahui dengan ilmunya yang azali dan abadi tentang segala sesuatu yang terjadi baik perkara yang kecil maupun yang besar, yang nyata maupun yang tersembunyi, baik itu perbuatan yang dilakukan oleh Allah maupun perbuatan makhluknya. Semuanya terjadi dalam pengilmuan Allah Ta’ala.
Kedua: Mengimanai bahwa Allah Ta’ala telah menulis dalam lauhul mahfudz catatan takdir segala sesuatu sampai hari kiamat. Tidak ada sesuatupun yang sudah terjadi maupun yang akan terjadi kecuali telah tercatat.
Dalil kedua prinsip di atas terdapat dalam Al Qur’an dan As Sunnah. Dalam Al Qur’an, Allah Ta’ala berfirman,
أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللهَ يَعْلَمُ مَافِي السَّمَآءِ وَاْلأَرْضِ إِنَّ ذَلِكَ فِي كِتَابٍ إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللهِ يَسِيرٌ {70}
“Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi?; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah” (QS. Al Hajj:70).
وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لاَيَعْلَمُهَآ إِلاَّ هُوَ وَيَعْلَمُ مَافِي الْبَرِّوَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ يَعْلَمُهَا وَلاَحَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ اْلأَرْضِ وَلاَرَطْبٍ وَلاَيَابِسٍ إِلاَّ فِي كِتَابٍ مًّبِينٍ {59}
“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)”” (QS. Al An’am:59).
Sedangkan dalil dari As Sunnah, di antaranya adalah sabda Rasulullah shalallhu ‘alaihi wa salam,
كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ
“… Allah telah menetapkan takdir untuk setiap makhluk sejak lima puluh ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi”.
Ketiga: Mengimani bahwa kehendak Allah meliputi segala sesuatu, baik yang terjadi maupun yang tidak terjadi, baik perkara besar maupun kecil, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, baik yang terjadi di langit maupun di bumi. Semuanya terjadi atas kehendak Allah Ta’ala, baik itu perbuatan Allah sendiri maupun perbuatan makhluknya.
Keempat: Mengimani dengan penciptaan Allah. Allah Ta’ala menciptakan segala sesuatu baik yang besar maupun kecil, yang nyata dan tersembunyi. Ciptaan Allah mencakup segala sesuatu dari bagian makhluk beserta sifat-sifatnya. Perkataan dan perbuatan makhluk pun termasuk ciptaan Allah.
Dalil kedua prinsip di atas adalah firman Allah Ta’ala,
اللهُ خَالِقُ كُلِّ شَىْءٍ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ وَكِيلٌ {62} لَّهُ مَقَالِيدُ السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا بِئَايَاتِ اللهِ أُوْلَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ {63}
“.Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu. Kepunyaan-Nyalah kunci-kunci (perbendaharaan) langit dan bumi. Dan orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah, mereka itulah orang-orang yang merugi.”(QS. Az Zumar 62-63)
وَاللهُ خَلَقَكُمْ وَمَاتَعْمَلُونَ {96}
“Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu“.” (QS. As Shafat:96).
Korelasi Antara Kehendak Makhluk dan Kehendak-Nya
Beriman dengan benar terhadap takdir bukan berarti meniadakan kehendak dan kemampuan manusia untuk berbuat. Hal ini karena dalil syariat dan realita yang ada menunjukkan bahwa manusia masih memiliki kehendak untuk melakukan sesuatu.
Dalil dari syariat, Allah Ta’ala telah berfirman tentang kehendak makhluk,
ذَلِكَ الْيَوْمُ الْحَقُّ فَمَن شَآءَ اتَّخَذَ إِلىَ رَبِّهِ مَئَابًا {39}
“Itulah hari yang pasti terjadi. Maka barangsiapa yang menghendaki, niscaya ia menempuh jalan kembali kepada Tuhannya.” (QS. An Nabaa’:39)
نِسَآؤُكُمْ حَرْثُ لَّكُمْ فَأْتُوا حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ… {223}
“Isteri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. …”(Al Baqoroh:223)
Adapun tentang kemampuan makhluk Allah menjelaskan,
فَاتَّقُوا اللهَ مَااسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوا وَأَطِيعُوا وَأَنفِقُوا خَيْرًا لأَنفُسِكُمْ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ {16}
“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta ta’atlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu . Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. At Taghobun :16)
لاَ يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا لَهَا مَاكَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَااكْتَسَبَتْ رَبَّنَا …{286}
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya….”(QS. Al Baqoroh:286)
Sedangkan realita yang ada menunjukkan bahwa setiap manusia mengetahui bahwa dirinya memiliki kehendak dan kemampuan. Dengan kehendak dan kemampuannya, dia melakukan atau meninggalkan sesuatu. Ia juga bisa membedakan antara sesuatu yang terjadi dengan kehendaknya (seperti berjalan), dengan sesuatu yang terjadi tanpa kehendaknya, (seperti gemetar atau bernapas). Namun, kehendak maupun kemampuan makhluk itu terjadi dengan kehendak dan kemampuan Allah Ta’la karena Allah berfirman,
لِمَن شَآءَ مِنكُمْ أَن يَسْتَقِيمَ {28} وَمَاتَشَآءُونَ إِلآَّ أَن يَشَآءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ {29}
“(yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. At Takwiir:28-29)
Dan karena semuanya adalah milik Allah maka tidak ada satu pun dari milik-Nya itu yang tidak diketahui dan tidak dikehendaki oleh-Nya.
Macam-Macam Takdir
Perlu kita ketahui bahwa takdir ada beberapa macam:
[1] Takdir Azali. Yakni ketetapan Allah sebelum penciptaan langit dan bumi ketika Allah Ta’ala menciptakan qolam (pena). Allah berfirman,
قُل لَّن يُصِيبَنَآ إِلاَّ مَاكَتَبَ اللهُ لَنَا هُوَ مَوْلاَنَا وَعَلَى اللهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ {51}
“Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.” (QS. At Taubah:51)
[2] Takdir Kitaabah. Yakni pencatatan perjanjian ketika manusia ditanya oleh Allah:”Bukankah Aku Tuhan kalian?”. Allah Ta’ala berfirman,
} وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِن بَنِي ءَادَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى شَهِدْنَآ أَن تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَذَا غَافِلِينَ {172} أَوْ تَقُولُوا إِنَّمَا أَشْرَكَ ءَابَآؤُنَا مِن قَبْلُ وَكُنَّا ذُرِّيَةً مِّن بَعْدِهِمْ أَفَتُهْلِكُنًا بِمَا فَعَلَ الْمُبْطِلُونَ {173}
“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengata-kan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”. atau agar kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu ?” (QS. Al A’raaf 172-173).
[3] Takdir ‘Umri. Yakni ketetapan Allah ketika penciptaan nutfah di dalam rahim, telah ditentukan jenis kelaminnya, ajal, amal, susah senangnya, dan rizkinya. Semuanya telah ditetapkan, tidak akan bertambah dan tidak berkurang.
[4] Takdir Hauli. Yakni takdir yang Allah tetapkan pada malam lailatul qadar, Allah menetapkan segala sesuatu yang terjadi dalam satu tahun. Allah berfirman,
حم {1} وَالْكِتَابِ الْمُبِينِ {2} إِنَّآ أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُّبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنذِرِينَ {3} فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ {4} أَمْرًا مِّنْ عِندِنَآ إِنَّا كُنَّا مُرْسِلِينَ {5}
“Haa miim . Demi Kitab (Al Qur’an) yang menjelaskan, sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah , (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah Yang mengutus rasul-rasul” (QS. Ad Dukhaan:1-5)
[5] Takdir Yaumi. Yakni pnentuan terjadinya takdir pada waktu yang telah ditakdirkan sbelumnya. Allah berfirman,
يَسْئَلُهُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَاْلأَرْضِ كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ {29}
“Semua yang ada di langit dan bumi selalu meminta kepadaNya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan . “ (QS. Ar Rahmaan: 29). Ibnu Jarir meriwayatkan dari Munib bin Abdillah bin Munib Al Azdiy dari bapaknya berkata, “Rasulullah membaca firman Allah “ Setiap waktu Dia dalam kesibukan”, maka kami bertanya: Wahai Rasulullah apakah kesibukan yang dimaksud?. Rasulullah bersabda :” Allah mengampuni dosa, menghilangkan kesusahan, dan meninggikan suara serta merendahkan suara yang lain”.
Sikap Pertengahan Dalam Memahami Takdir
Diantara prinsip ahlus sunnah adalah bersikap pertengahan dalam memahami Al Qur’an dan As Sunnah, tidak sebagaimana sikap ahlul bid’ah. Ahlus sunnah beriman bahwa Allah telah menetapkan seluruh taqdir sejak azali, dan Allah mengetahui takdir yang akan terjadi pada waktunya dan bagaimana bentuk takdir tersebut, semuanya terjadi sesuai dengan takdir yang telah Allah tetapkan.
Adapun orang-orang yang menyelisihi Al Quran dan As Sunnah, mereka bersikap berlebih-lebihan. Yang satu terlalu meremehkan dan yang lain melampaui batas. Kelompok Qodariyyah, mereka mengingkari adanya takdir. Mereka mengatakan bahwa Allah tidak menakdirkan perbuatan hamba. Menurut mereka perbuatan hamba bukan makhluk Allah, namun hamba sendirilah yang menciptakan perbuatannya. Mereka mengingkari penciptaan Allah terhadap amal hamba.
Kelompok yang lain adalah yang terlalu melampaui batas dalam menetapkan takdir. Mereka dikenal dengan kelompok Jabariyyah. Mereka berlebihan dalam menetapkan takdir dan menafikan adanya kehendak hamba dalam perbuatannya. Mereka mengingkari adanya perbuatan hamba dan menisbatkan semua perbuatan hamba kepada Allah. Jadi seolah-olah hamba dipaksa dalam perbuatannya.
Kedua kelompok di atas telah salah dalam memahai takdir sebagaimana ditunjukkan dalam banyak dalil. Di antaranya firman Allah ‘Azza wa Jalla,
لِمَن شَآءَ مِنكُمْ أَن يَسْتَقِيمَ {28} وَمَاتَشَآءُونَ إِلآَّ أَن يَشَآءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ {29}
“(yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan
Takdir Baik dan Takdir Buruk
Takdir terkadang disifati dengan takdir baik dan takdir buruk. Takdir yang baik sudah jelas maksudnya. Lalu apa yang dimaksud dengan takdir yang buruk? Apakah berarti Allah berbuat sesuatu yang buruk? Dalam hal ini kita perlu memahami antara takdir yang merupakan perbuatan Allah dan dampak/hasil dari perbuatan tersebut. Jika takdir disifati buruk, maka yang dimaksud adalah buruknnya sesuatu yang ditakdirkan tersebut, bukan takdir yang merupakan perbuatan Allah, karena tidak ada satu pun perbuatan Allah yang buruk. Seluruh perbuatan Allah mengandung kebaikan dan hikmah. Jadi keburukan yang dimaksud ditinjau dari sesuatu yang ditakdirkan/hasil perbuatan, bukan ditinjau dari perbuatan Allah. Untuk lebih jelasnya bisa kita contohkan sebagai berikut.
Seseorang yang terkena kanker tulang ganas pada kaki misalnya, terkadang membutuhkan tindakan amputasi (pemotongan bagian tubuh) untuk mencegah penyebaran kanker tersebut. Kita sepakat bahwa terpotongnya kaki adalah sesuatu yang buruk. Namun pada kasus ini, tindakan melakukan amputasi (pemotongan kaki) adalah perbuatan yang baik. Walaupun hasil perbuatannya buruk (yakni terpotongnya kaki), namun tindakan amputasi adalah perbuatan yang baik. Demikian pula dalam kita memahami takdir yang Allah tetapkan. Semua perbuatan Allah adalah baik, walaupun terkadang hasilnya adalah sesuatu yang tidak baik bagi hambanya.
Namun yang perlu diperhatikan, bahwa hasil takdir yang buruk terkadang di satu sisi buruk, akan tetapi mengandung kebaikan di sisi yang lain. Allah Ta’ala berfirman :
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ {41}
“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supay Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS. Ar Ruum:41).
Kerusakan yang terjadi pada akhirnya menimbulkan kebaikan. Oleh karena itu, keburukan yang terjadi dalam takdir bukanlah keburukan yang hakiki, karena terkadang akan menimbulkan hasil akhir berupa kebaikan.
Kesimpulan
Dilihat dari keempat poin diatas, jelas bahwa pemakaian istilah qadha’ wa qadar oleh ahli kalam, sama sekali tidak berhubungan dengan istilah qadha dan qadar yang termaktub di dalam al-Quran dan as-Sunnah, baik dari sisi makna, maupun topik yang diperbincangkan. Sesungguhnya inti permasalahan terma “Qadha’ wa Qadar” menurut para ahli kalam (mutakallimin) adalah perbuatan manusia dan khasiyat benda, dilihat dari apakah keduanya itu diciptakan oleh manusia ataukah Allah.
Setiap pendefinisan takdir hanya akan berbeda dalam masalah linguistik saja. Baik antara determinasi mutlak atau kebebasan mutlak atau setengah, seperempat, sepertiga dsb, dalam ranah objektif, hal yang akan dialami akan sama saja. Yang berbeda adalah sikap seseorang dalam menyikapi kondisi yang ia terima. Namun yang pasti, Tuhan tidak menurunkan wahyunya jika ia belum mengecheck apakah ada hal yang kontradiktif atau tidak
Keimanan yang benar terhadap takdir akan membuahkan hal-hal penting, di antaranya sebagai berikut :
Pertama: Hanya bersandar kepada Allah ketika melakukan berbagai sebab, dan tidak bersandar kepada sebab itu sendiri. Karena segala sesuatu tergantung pada takdir Allah.
Kedua: Seseorang tidak sombong terhadap dirinya sendiri ketika tercapai tujuannya, karena keberhasilan yang ia dapatkan merupakan nikmat dari Allah, berupa sebab-sebab kebaikan dan keberhasilan yang memang telah ditakdirkan oleh Allah. Kekaguman terhadap dirinya sendiri akan melupakan dirinya untuk mensyukuri nikmat tersebut.
Ketiga: Munculnya ketenangan dalam hati terhadap takdir Allah yang menimpa dirinya, sehingga dia tidak bersedih atas hilangnya sesuatu yang dicintainya atau ketika mendapatkan sesuatu yang dibencinya. Sebab semuanya itu terjadi dengan ketentuan Allah. Allah berfirman,
مَآأَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِي اْلأَرْضِ وَلاَفِي أَنفُسِكُمْ إِلاَّ فِي كِتَابٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَآ إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللهِ يَسِيرٌ {22} لِكَيْلاَ تَأْسَوْا عَلَى مَافَاتَكُمْ وَلاَتَفْرَحُوا بِمَآ ءَاتَاكُمْ …{23}
“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu…” (QS. Al Hadiid:22-23).
Demikian paparan ringkas seputar keimanan terhadap takdir. Semoga bermanfaat. Alhamdulillahiladzi bi ni’matihi tatimmush shaalihat.









Daftar pustaka
Syarh al ‘Aqidah al Wasithiyah. Syaikh Muhammad bin Sholih al ‘Utsaimin. Dalam kitab Syarh al ‘Aqidah al Washitiyah. Kumpulan Ulama. Penerbit Daarul Ibnul jauzi
Taqriib Tadmuriyah hal , Syaikh Muhammad bin Sholih al ‘Utsaimin. Penerbit Daarul Bashiiroh.
Syarh Ushuulil Iman. Syaikh Muhammad bin Sholih al ‘Utsaimin. Penerbit Daarul Qasim. Cetakan pertama 1419 H
Ma’aarijul Qobuul hal. Syaihk Hafidz bin Ahmad Hakami. Penerbit Darul Kutub ‘Ilmiyah. Cetakan pertama 1424 H/2004 M
Al Mufiid fii Muhammaati at Tauhid hal. Dr. ‘Abdul Qodir as Shufi. Penerbit Daar Adwaus Salaf. Cetakan pertama 1428/2007
Al Irsyaad ilaa Shahiihil I’tiqad. Syaikh Sholih Al Fauzan. Penerbit Maktabah Salsabiil Cetakan pertama tahun 2006.

hisab ephimeris ( awal bulan qomariyah )

NAMA : AHMAD MA’RUF MAGHFUR
NIM : 082111064
NO HP : 087832345681

Konversi tanggal 01 juli 2014
2013 x 365,2422 = 735232,5486
181 + 1 = 182 +
= 735414,5486
226660 -
508754,5486
508754,5486 x 354,3666 = 1435,672969 ( 1435 )
0,672969 x 354,3666 = 238 – 236(sya’ban) = 2 Romadhan
508754,5486 : 35 = 14535,84425
0,84425 x 35 = 30 (Selasa Legi )
Tanggal 1 juli 2014 = 2 ramadhan 1435
Maka tanggal 28 juli 2014 / 29 ramadhan 1435 = senin pon
Awal syawal = tanggal 29 juli 2014 ( selasa wage )

FIB terkecil pada tanggal 26 juli 2014

(1) ELM Jam 23 = 123*52’35”
ELM Jam 24 = 123*54’58”
B1 = 0*2’23”

(2) ALB Jam 23 = 124*0’2”
ALB Jam 24 = 124*29’46”
B2 = 0*29’44”

(3) ELM Jam 23 = 123*52’35”

ALB Jam 23 = 124*29’46”
MB = 0*7’27”

(4) B2 = 0*29’44”

B1 = 0*2’23”

SB = 0*27’21”


(5) Titik ijtima’ = MB : SB
= 0*16’20,62”
(6) FIB Terkecil = 23*0’0”
Titik ijtima’ = 0*16’20,62”
Ijtima’ = 23*16’20,62”
Ijtima’ WIB = 6*16’20,62”

(7) Perkiraan matahari terbenam untuk daerah kudus pada tanggal 29 juli 2014.
Q = -6*50’
@ = 110*50’
T = 890 m
& = 14*28’50”
e = -0*6’32”
Dip = 0,0293 x /’’890 = 0*52’26.77”
h = -(0*6’+ 0*34’30” + 0*52’26.77”)
= -1*42’56.77”
cos t = -tan Q tan & + sin h : cos Q : cos &
t = 90* 0’40.73”
12 – e = 12*6’32”
t : 15 = 6*o’2,72” +
= 18*6’34.72”
@ : 15 = 7*23’20” -
= 10*43’14.72” ( matahari terbenam ) GMT

(8) Data epimeris jam 10*43’14.72”

Deklinasi matahari ( &O )
&o Jam 10 = 19*11’14” > 19*11’14”
&o Jam 11 = 19*10’40 -
0*0’34”
0*43’14.72” x
0*0’24,51” > 0*0’24,51” -
= 19*10’49,49”
Semidiameter (SDo)
SD jam 10 = 0*15’44,93” > 0*15’44,93”
SD jam 11 = 0*15’44.94 -
-0*0’0.01”
0*43’14.72” x
-0*0’0.01” > -0*0’0.01”
= 0*15’44.94”
Equation of time ( e )
E jam 10 = -0*6’32” > -0*6’32”
E jam 11 = 0*6’32”
0
0*43’14.72” x
0
= -0*6’32”
(9) ho = - ( SD + 0*34’30” + Dip )
= -1*42’41.71”
(10) to = shift cos ( -tan Q tan & + sin ho : cos Q : cos &)
= 89*26’11.52”
(11) Ghurub = 12 – e + (to : 15) – (@:15)
= 10*40’56.77”
WIB + 7* = 17*40’56.77”
(12) AR o Jam 10 = 126*38’30” > 126*38’30”
ARo Jam 11 = 126*40’57” -
-0*2’27”
0*40’56.77” x
-0*1’32’’ > -0*1’32’’ -
= 126*40’10.3”
(13) ARC Jam 10 = 130*34’44” > 130*34’44”
ARC Jam 11 = 131*4’16” -
-0*29’32”
0*40’56.77” x
-0*20’9.28” > -0*20’9.28”
= 130*54’53.28”
(14) &c jam 10 = 13*15’48” > 13*15’48”
&c jam 11 = 13*8’49” -
0*6’59”
0*40’56.77” x
0*4’45,94” > 0*4’45,94”
= 13*11’2.06”
(15) SDo jam 10 = 0*14’42.22” > 0*14’42.22”
SDo jam 11 = 0*14’42.28” -
-0*0’0.04”
0*40’56.77”
-0*0’0.03” > -0*0’0.03”
= 0*14’42.19”
(16) HPc jam 10 = 0*53’58” > 0*53’58”
HPc jam 11 = 0*53’57”
0*0’0,01
0*40’56.77” x
0*0’0.68” > 0*0’0.68”
= 0*53’57.32”
(17) tc = RAo – RAc + to
= 85*11’28.54”
(18) hc = shift sin ( sin Q sin &c + cos Q cos &c cost c )
= 3*5’23.79”
(19) Pc = cos hc x HPc
= 0*53’52.61”
(20) ho = hc – Pc +SDc
= 2*26’13”
(21) Refr = 0,0167 : tan ( ho + 7.31 :( ho + 4.4))
= 0*16’21.2”
(22) hc = ho – Refr + Dip
= 3*35’1.34”
(23) NFc = Shift sin (( sin Q sin &c) : ( cos Q cos &c))
= -1*36’30.83”
(24) PNF = cos NFc x HPc
= 0*53’56.04”
(25) SBSH = 90 + NFc
= 88*23’29.17”

(26) SBSc = 90 + NFc – PNF +( SDc + 0,575 + Dip )
= 89*11’12.09”
(27) Lmc = ( SBSc – tc ) : 15
= 0*15’58.9”
(28) Terb = Ghurub + Lmc
= 17*56’55.67”
(29) Ao = Shift tan ( - sin Q : tan to + cos Q tan &o : sin to )
= 19*6’53”
(30) Ac = Shift tan ( - sin Q : tan tc + cos Q tan &c :sin to )
= 13*40’50.84”
(31) PHc = Ac – Ao
= -5*26’2.27”
(32) ATc = Shift tan ( - sin Q : tan SBSc + cos Q tan &c:sin SBSc )
= 13*11’11.54”
(33) FIB jam 10 = 0,00376 > 0,00376
FIB jam 11 = 0,00412 -
-0,00036
0*40’56.77” x
-0,00025 > -0,00025
= 0,00401
(34) NH = ( /”(PH2 + hc)) : 15
= 0.43
(35) MRG = ( PH : hc )
= -1*30’58.67”




Keterangan
Dari perhitungan di atas dapat kita ketahui bahwa ijtima’ menjelang bulan syawal 1435 H, terjadi pada hari senen pon tanggal 28 juli 2014. Jam 23:16:20.67 GMT atau jam 6:16:20.67.
Untuk lokasi kudus :
Matahari terbenam : 17:40:56.77
Arah matahari : 19:06:53.11
Tinggi hilal : 03:05:23.79
Arah hilal : 13:40:50.84
Posisi hilal : 05:26:2.27
Keadaan hilal : miring ke selatan
Lama hilal : 0:15:58.9
Hilal terbenam : 17:56:55.67
Arah terb hilal : 13:11:11.54
Illuminasi hilal : 0,0041
Nurul hilal : 0,4 jari
gambar

Selasa, 11 Mei 2010

oke tauhid

 Secara epistemologi tauhid berasal dari bahasa Arab
وحد يوحد توحيدا
yang artinya mengesakan.
 Secara terminologi, tauhid adalah meyakini adanya Allah yang Esa dalam dzat, sifat dan af’alNya.
PENGERTIAN ILMU TAUHID
1. Muh. Abduh : Ilmu Tauhid ialah ilmu yg membicarakan tentang wujud Allah, sifat-sifat yang mesti ada padaNya, sifat-sifat yang tidak ada padaNya dan sifat-sifat yang mungkin ada padaNya, dan membicarakan ttg. Rasul-rasul Allah utk. menetapkan kerasulannya dan mengetahui sifat-sifat yang mesti ada padanya, sifat-sifat yg tidak mungkin ada padanya, dan sifat-sifat yang mungkin ada padanya. (lihat Risalat at Tauhid)
2. Husen Afandi Al Jasr : Ilmu yg. membicarakan cara-cara menetapkan akidah agama dengan menggunakan dalil-dalil yang meyakinkan. (Al Hushunul Hamidiyah)
3. Ibnu Khaldun : ilmu yg. berisi alasan-alasan mempertahankan kepercayaan iman dengan menggunakan dalil akli dan berisi bantahan thd. orang-orang yang menyeleweng dari kepercayaan golongan salaf dan ahlussunnah.

Nama lain Ilmu Tauhid
• Ilmu Aqa’id
• Ilmu Ushuluddin
• Ilmu Kalam
• Theology Islam
DASAR-DASAR ILMU TAUHID
1. Dalil Naqli : Al Qur’an dan Hadits Mutawatir.
2. Dalil Aqli dengan menggunakan logika.
Hukum Mempelajari Ilmu Tauhid
Bagi semua orang mukallaf :
 Belajar dengan dalil ijmali : Fardlu ‘Ain
 Belajar dengan dalil tafshili : Fardlu Kifayah.
TUJUAN MEMPELAJARI ILMU TAUHID :
Agar memiliki keimanan yang mantap akan keesaan Allah dengan ketauhidan yang murni yang jauh dari bid’ah dan khurafat, yang merupakan perpaduan antara Tauhid Rububiyah dan Tauhid Uluhiyah
TAUHID RUBUBIYAH
Meyakini adanya Allah Yang menciptakan segala yang ada, dengan segala sifat kesempurnaannya.
Syetan mengimani tauhid rububiyah.
Hanya orang ateis yang mengingkarinya.
TAUHID ULUHIYAH
Meyakini dengan sepenuh hati bahwa hanya Allah yang patut dan wajib disembah.
IBADAH hanya boleh dilakukan kepada Allah bukan kepada yang lain.
Pengingkar Tauhid Uluhiyah adalah syetan dan orang ateis
ARTI IBADAH
Perpaduan yang harmonis antara
CINTA dan TAAT
IBADAH KEPADA ALLAH
berarti taat melakukan semua yang diperintahkan Allah dan menjauhi segala yang dilarangNya, yang didasari oleh rasa CINTA kepada Allah dan bukan karena TERPAKSA
PENGERTIAN SYIRIK
 Menyamakan selain Allah dengan Allah dalam hal Rububiyyah dan Uluhiyyah-Nya.
 Umumnya menyekutukan dalam Uluhiyyah Allah, yaitu hal-hal yang merupakan kekhususan bagi Allah SWT.
 Contoh : berdo’a kepada selain Allah disamping berdo’a kepada Allah, atau memalingkan suatu bentuk ibadah seperti menyembelih (kurban), bernadzar, berdo’a dan sebagainya kepada selain Allah SWT.
Bahaya syirik
- Allah berfirman dalam Q.S. Luqman : 13
وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
Artinya : Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar."
JENIS SYIRIK
 Syirik Ada Dua Jenis : Syirik Besar dan Syirik Kecil.
 Syirik Besar : bisa mengeluarkan pelakunya dari agama Islam dan menjadikannya kekal di dalam neraka, jika ia meninggal dunia dan belum bertaubat daripadanya.
Syirik besar adalah memalingkan sesuatu bentuk ibadah kepada selain Allah, seperti berdo’a kepada selain Allah atau mendekatkan diri kepadanya dengan penyembelihan kurban atau nadzar untuk selain Allah, baik untuk kuburan, jin atau syaitan, atau mengharap sesuatu selain Allah, yang tidak kuasa memberikan manfaat maupun mudharat.
Macam syirik besar
Syirik besar ada empat macam :
1. Syirik Do’a, yaitu di samping dia berdo’a kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, ia juga berdo’a kepada selainNya.
2. Syirik Niat, Keinginan dan Tujuan, yaitu ia menunjukkan suatu ibadah untuk selain Allah Subhanahu wa Ta’ala
3. Syirik Ketaatan, yaitu mentaati kepada selain Allah dalam hal maksiyat kepada Allah
4. Syirik Mahabbah (Kecintaan), yaitu menyamakan selain Allah dengan Allah dalam hal kecintaan.
Syirik Kecil
Syirik kecil tidak menjadikan pelakunya keluar dari agama Islam, tetapi ia mengurangi tauhid dan merupakan wasilah (perantara) kepada syirik besar.
Macam Syirik Kecil
Syirik Kecil Ada Dua Macam.
 Syirik Zhahir (Nyata), yaitu syirik kecil yang dalam bentuk ucapan dan perbuatan. Dalam bentuk ucapan misalnya, bersumpah dengan nama selain Allah.
Rasulullah SAW bersabda yang artinya :
Barangsiapa bersumpah dengan nama selain Allah, maka ia telah berbuat kufur atau syirik”
 Syirik Khafi (Tersembunyi), yaitu syirik dalam hal keinginan dan niat, seperti riya’ (ingin dipuji orang) dan sum’ah (ingin didengar orang) dan lainnya.
• Syirik dalam bentuk ucapan, yaitu perkataan.
“Kalau bukan karena kehendak Allah dan kehendak fulan”
Ucapan tersebut salah, dan yang benar adalah.
• “Kalau bukan karena kehendak Allah, kemudian karena kehendak si fulan”
• Kata (kemudian) menunjukkan tertib berurutan, yang berarti menjadikan kehendak hamba mengikuti kehendak Allah.
SEJARAH PERKEMBANGAN TAUHID DAN ILMU TAUHID
 Sejak Nabi Adam a.s. sampai dengan Rasulullah Muhammad SAW.
 Sejak masa Rasulullah Muhammad SAW sampai dengan sekarang.
Sejak Nabi Adam s.d. Nabi Muhammad SAW.
 Ajaran Rasul sebelum Nabi Muhammad SAW. adalah monoteis/tauhid. (lihat QS Ibrahim 35)
وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آَمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الْأَصْنَامَ
Lihat Q.S. Nuh ayat 1-3
• Artinya :
• Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya (dengan memerintahkan): "Berilah kaummu peringatan sebelum datang kepadanya azab yang pedih",
TEORI EVOLUSI AGAMA
 Kepercayaan manusia thdp adanya Tuhan mengalami evolusi dari : animisme, dinamisme, politeisme, henoteisme, monoteisme, agnostisisme dan ateisme.
 Teori ini tidak benar. Itu hanya jenis-jenis keyakinan yang diyakini orang bukan evolusi.
 Islam sejak dahulu monoteisme (mengajarkan tauhid).
قال النبى صعلم. ان معشر الأنبيأ ديننا واحد (متفق عليه)
Sejak Nabi Muhammad SAW s.d. sekarang
Dibagi menjadi 5 phase :
1. Phase Rasulullah
2. Phase Khulafaur Rasyidin
3. Phase Bani Umayah
4. Phase Bani Abasiyah
5. Phase sesudah Bani Abasiyah
1. Phase Rasulullah
Masa menyusun peraturan, menetapkan pokok akidah, menyatukan ummat Islam dan membangun kedaulatan Islam.
Rasulullah tempat bertanya semua hal.
Dilarang berbantahan termasuk masalah taqdir.
2. Masa Khulafaur Rasyidin
 Pada masa khalifah ke 1 dan ke 2 sibuk mempertahankan kesatuan dan persatuan ummat.
 Tidak pernah terjadi perbedaan akidah. Mereka membaca Al Qur’an dg tdk pernah menta’wili. Kalau ada yg mutasyabihah diserahkan kepada Allah.
 Pada ms khalifah ke 3 terjadi kekacauan politik yg berakibat Utsman terbunuh. Ummat Islam pecah menjadi bbrp golongan dan partai, dan berusaha mempertahankan pendiriannya.
 Terbuka pintu ta’wil thd Qur’an & hadits. Muncul hadits palsu.
 Pembahasan masalah akidah mulaisubur, kian hari makin subur dan membesar.

2. Masa Bani Umayah

 Setelah reda usaha mempertahankan kedaulatan Islam, dan terbuka masa membicarakan hukum agama dan dasar akidah, serta masuk Islam mantan kafirin yang kurang ikhlas, muncul kebebasan bicara ttg masalah yang didiamkan oleh ulama salaf.
 Muncul aliran Qadariyah (Ma’bad Al Juhani, Ghilan Addimaski, & Ja’ad bin Dirham) yang ditentang oleh Abdullah bin Umar, Jabir bin Abdullah, Anas bin Malik, Ibnu Abas & Abu Hurairah dg menganjurkan jangan beri salam mereka, kalau sakit jangan ditengok, kalau mati jangan disholati.
 Muncul pula aliran Jabariyah (Jaham bin Sofwan). Disebut pula Jabriyah Mujbarah Mu’athilah
3. Phase Bani Abasiyah
Hubungan Arab & ‘Ajam erat dalam bid ilmu dan budaya.
Penguasa merekrut penerjemah kitab2 ‘ajam termasuk yg non muslim.
Penerjemah non muslim scr diam2 menyusupkan aj agama mrk dlm Islam.
Gol. Mu’tazilah kurang PD mempertahankan ajaran agama tanpa falsafah Yunaniyah.
Mulailah gerakan menggunakan filsafat utk menetapkan akidah Islamiyah, yg tdk pernah ada di ms Rasul & sahabat.
Ilmu Kalam mulai dituang dalam tulisan.

Nama-nama penerjemah a.l. :
1. Yahya bin ‘Ad (w. 973 m)
2. Al Farabi (879-950 m)
3. Ibnu Sina (980-1037 m)
4. Ibnul Muwaffa
5. Ibnu Nadim (abad ke 10)
6. Al Qifthi
7. Ibnu Rusydi (1126-1198 m) dll

Reaksi ulama’ thd. Gerakan Mu’tazilah
 Hisyam bin Al Hakam Asy Syafi’i menyusun kitab menolak aj. Mu’tazilah
 Abu Hanifah menyusun kitab Al ”Alim Wal Muta’alim dan Al Fiqhul Akbar utk mempertahankan aj. ahlussunnah.
 Asy Syafi’i menyusun Al Fiqhul Akbar.

Penguasa mendukung Mu’tazilah
 Pendukung Mu’tazilah : Al Makmun, Al Mu’tashim, Al Watsiq.
 Mu’tazilah dapat dukungan politik dan diakui sebagai aliran resmi pemerintah.
 Kekerasan dilakukan utk menyebarkan ajarannya.
 Masyarakat mulai resah dan membenci Mu’tazilah.

Munculnya Al Asy’ari
 Namanya : Abul Hasan Ali bin Ismail Al Asy’ari.
 Semula pengikut Mu’tazilah selama 40 th.
 Murid dari tokoh Mu’tazilah Al Juba’i
 Keluar dari Mu’tazilah krn mulai ragu kebenaran ajarannya.
 Mendirikan aliran tersendiri Aliran Asy’ariyah.
 Usahanya didukung oleh Abul Mansyur Al Maturidi.
 Berkembang pesat karena dukungan penguasa pula (Kholifah Al Mutawakkil).

5.Phase sesudah Bani Abasiyah
 Pengikut Al Asy’ari terlalu banyak memberi porsi kepada falsafah, mantiq dll dalam ilmu kalam, spt Al Baidlowi dalam kitab Ath Thawali dan Al ‘Iejy dalam kitab Al Mawaqif.
 Madzhab Al Asy’ari berkembang pesat tak ada yg berani melawan kecuali Madzhab Hambaliyah yg ingin kembali kpd qur’an dan hadits.
 Awal abad ke 8 di Damaskus lahir ulama besar Taqiyuddin ibnu Taimiyah menentang Asy’ariyah yg. berlebihan pakai filsafat.
 Usahanya dibantu muridnya Ibnul Qayyim Al Jauziyah.
PENYEBAB TIMBULNYA ILMU TAUHID
1. Faktor Intern (yang timbul dari dalam)
- Yang kembali kepada Al Qur’an
- Yang kembali kepada kaum muslimin
2. Faktor Extern (yang timbul dari luar)
FAKTOR INTERN
Yang kembali kepada Al Qur’an :
a. Al Qur’an mendebat kaum musyrikin dan membantahnya :
- Al Qur’an membantah pengingkar agama (Q.S. Al Jatsiyah 24) :
وَقَالُوا مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلَّا الدَّهْرُ وَمَا لَهُمْ بِذَلِكَ مِنْ عِلْمٍ إِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ
Al Qur’an membantah orang musyrik :
• لَوْ كَانَ فِيهِمَا آَلِهَةٌ إِلَّا اللَّهُ لَفَسَدَتَا فَسُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ الْعَرْشِ عَمَّا يَصِفُونَ(الأنبيأ 22)
Al Qur’an membantah orang yang mengingkari hari kiamat :

أَوَلَيْسَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِقَادِرٍ عَلَى أَنْ يَخْلُقَ مِثْلَهُمْ بَلَى وَهُوَ الْخَلَّاقُ الْعَلِيمُ ( يس 81)
b. Al Qur’an menganjurkan berda’wah :
هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَكَفَى بِاللَّهِ شَهِيدًا (الفتح 28)
c. Dalam Al Qur’an ada ayat2 mutasyabihat yang menarik minat utk ditakwili
• ليس كمثله شيء وهو السميع البصير (الشورى 11)
• Artinya : Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat.
d. Al Qur’an mendorong utk berpikir :
قل انظروا ماذا في السماوات والأرض وما تغني الآيات والنذر عن قوم لا يؤمنون (يونس 101)
Katakanlah: "Perhatikanlah apa yaag ada di langit dan di bumi. Tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman."
SEBAB YANG KEMBALI KPD KAUM MUSLIMIN
a. Merasa ada kesempatan membahas masalah agama scr falsafah karena hidupnya lebih tenang dan tenteram.
b. Timbulnya partai2 dlm Islam setelah Usman terbunuh.
c. Adanya kebebasan berpikir pada waktu itu yang memang sesuai dengan watak orang Arab.

FAKTOR EXTERN
a. Banyak orang yang masuk Islam tetapi dalam hatinya masih ada sisa2 ajaran agama lama.
b. Adanya aliran yg ingin membela akidah Islam terutama Mu’tazilah, yg merasa perlu mempelajari akidah agama lawan agar dapat menyusun bantahannya.
c. Merekapun menggunakan filsafat karena lawannya juga menggunakan filsafat.
CARA MENCAPAI KEBENARAN :
Manusia dibagi 3 golongan :
 Golongan Khashshah : mereka yang cerdas dan berpengetahjuan tinggi. Cara mencapai kebenaran melalui merenung dan menggunakan cara berpikir logika, lalu mengambil natijah / kesimpulan sesuai ilmu logika. Mereka adalah para ulama’, para hukama’ dan para ahli filsafat. Mereka jumlahnya kecil.
 Golongan umum : (orang yang tidak berpengetahuan tinggi).. Mereka tidak dapat menemukan kebenaran lewat logika tetapi melalui adat kebiasaan. Mereka tidak masuk golongan keras kepala. Cara berpikirnya sederhana, melalui apa yang dapat dirasakan dan menurut hukum alam. Jumlahnya banyak.
 Golongan pertengahan :Mereka tidak pandai tapi keras kepala, fanatik terhadap apa yang telah mereka biasakan serta membelanya.
Ilmu Tauhid muncul lebih dulu dari pada filsafat. Al Kindi (filosuf pertama) w. th. 950 m/260 H. sedangkan Wasil b Atho (699-748/82-131H), Amr bin Ubaid w. 143H/764 M. Abu hudzail Al Allaf (135-235 H). Dll
ILMU TAUHID :
1. Berpijak pada wahyu
2. Bersikap telah memperoleh kebenaran
3. Pembela kebenaran
4. Berobyekkan wujud alam.
FILSAFAT ISLAM :
1. Obyektif dan keragu-raguan
2. Bersikap mencari kebenaran
3. Sebagai hakim
4. Berobyekkan wujud mutlak.
Persamaan Ilmu Tauhid dan filsafat Islam
1. Sama-sama memakai logika dalam mengemukakan alasan dan argumentasinya.
2. Sama-sama memakai dalil Al Qur’an sebagai dasar dan pijakan dalam mengemukakan sesuatu.
3. Sama-sama mempercayai pokok-pokok agama yang tidak bisa dibicarakan seperti hari kebangkitan dan sebagainya.
Hubungan Antara Akidah dan Syari’ah (Ibadah)
Akidah dan ibadah saling terkait dan saling mempengaruhi satu
dengan yang lain.
Seseorang akan semakin rajin melakukan ibadah bila akidah yang ada dalam hatinya terpelihara dengan mantap, bersih, subur dan terjaga dari penyakit yang menggangunya.
MENURUT ABUL A’LA AL MAUDUDI
 Hubungan antara akidah dan ibadah seperti hubungan antara akar dan pohon.
 Akidah diibaratkan dengan akar, dan Ibadah diibaratkan dengan pohon.
 Bila akar kuat, dipupuk, disiram, dan dijaga dari penyakit, maka pohon akan subur, rindang, berbunga dan berbuah.
 Bila akidah selalu disiram, dipupuk dan dijaga dari penyakit, maka ibadahnya semakin rajin, berbunga dan berbuah sikap yang baik untuk lingkungannya.
Menurut Prof. Dr. Mahmoud Syaltout dalam ”Islam sebagai akidah dan syari’ah”
 Akidah dan ibadah terkait satu dengan yang lain.
 Dalam Al Qur’an, akidah diungkapkan dengan kata امنوا sedangkan ibadah diungkapkan dengan kata عملوالصالحا ت
 Kedua kata tersebut selalu disebut bergandengan.
TAUHID SEBAGAI FITRAH MANUSIA
Dalil Naqli :
• قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : كل مولود يولد على الفطرة فأبواه يهودانه او ينصرانه او يمجسانه0
• وإذ أخذ ربك من بني آدم من ظهورهم ذريتهم وأشهدهم على أنفسهم ألست بربكم قالوا بلى شهدنا أن تقولوا يوم القيامة إنا كنا عن هذا غافلين (الأعرا ف 172)
Dalil Aqli ….
 Manusia primitif
 Manusia modern
 Fir’aun juga manusia : Mengaku sebagai Tuhan, mimpi lalu bingung, mengundang ahli nujum, melakukan operasi pembersihan, akhirnya jatuh juga.
Bahasan Ilmu Tauhid
 Rukun iman : Iman kpd Allah, malaikat, rasul, kitab, hari akhir, dan taqdir.
 Dasarnya : Hadits Rasulullah ketika ditanya Jibril tentang Iman.
قال رسول الله صلعم. أن تؤ من بالله وملا ئكته وكتبه ورسله واليوم الأ خر وبالقد ر خيره وشره
مبحث علم التوحيد
 معرفة المبدأ ( الا يما ن بالله وا لقد ر)
 معرفة الوا سطة ( الا يما ن بالملا ئكة والكتب والرسل)
 معرفة المعا د ( الايما ن باليوم الآ خر)
HAKEKAT DZAT ALLAH
Akal manusia terbatas, tak mungkin menjangkau hakekat Allah (lihat Q.S. Al An’am : 103).
لآ تدركه الا بصار وهو يد رك الا بصار وهو اللطيف الخبير
Artinya : Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui.
BANYAK HAL YANG DIYAKINI ADANYA PADAHAL TIDAK DIKETAHUI HAKEKATNYA
Akal manusia terbatas tak mungkin menjangkau segala sesuatu seperti hakekat ruh, bahkan banyak benda di dunia yang tidak dapat diketahui hakekatnya oleh manusia tetapi diyakini adanya :
 Manusia berfikir tapi tak tahu makna berpikir
 Manusia berjalan tapi tak tahu kerja otot
 Manusia juga tak tahu hakekat angin & listrik
 Manusia bernyawa tapi tak tahu hakekat ruh
Cara ma’rifat kepada Allah :
Menurut Sayid Sabiq, ada dua cara :
1. Menggunakan akal pikiran dan memeriksa secara teliti apa yang diciptakan oleh Allah.
2. Mengenal nama-nama Allah serta sifat-sifatNya.
1 Menggunakan akal pikiran
Q.S. Al Ghasyiyah : 17-20

أفلا ينظرون إلى الإبل كيف خلقت (17) وإلى السماء كيف رفعت (18) وإلى الجبال كيف نصبت (19) وإلى الأرض كيف سطحت (20)
Maka apakah mereka tidak memperhatikan bagaimana unta diciptakan ? Dan pada planet bagaimana dia ditinggikan ? Dan gunung-gunung bagaimana dia ditegakkan ? Dan bumi bagaimana dia dihamparkan ?
2. Dengan mengenal nama dan sifat Allah :
Q.S. Al Isra 110
• قل ادعوا الله أو ادعوا الرحمن أيا ما تدعوا فله الأسماء الحسنى ولا تجهر بصلاتك ولا تخافت بها وابتغ بين ذلك سبيلا
BUKTI WUJUD ALLAH
1. Dalil Inayah (pemeliharaan). Alam ini compactible, sesuai satu sama lain, bukan kebetulan tetapi menandakan ada pencipta yang membuat alam rapi dan teratur.
2. Dalil Itkhtira’ (penciptaan). Perhatikan lebah madu, berang-berang, ikan salmon, dll. yang mampu menciptakan karya spektakuler, bukan kebetulan tapi ada pencipta yang mengilhaminya. Juga hewan dan tanaman yang beraneka ragam.
3. Dalil Gerak (diadopsi dari Aristoteles).
Bukti wujud Allah menurut Filosuf non muslim :
 Argumen ontologis (Plato dg teori ideanya)
 Argumen Kosmologis (Aristo dg teori sebab akibat)
 Argumen teleologis (tujuan)
 Argumen moral (Immanuel Khan).
BUKTI WUJUD ALLAH MENURUT FILOSUF NON MUSLIM
ARGUMEN MORAL :
 Penggagasnya : Immanuel Khant. Manusia mempunyai hati nurani yang selalu mengajak untuk melakukan kebaikan dan meninggalkan kejahatan.
REALITA KEHIDUPAN DUNIA
 Banyak orang yang berbuat baik tidak menerima balasan kebaikannya, bahkan sering dipenjara.
 Banyak pula orang jahat tidak dipenjara malah tertawa dan hidup mulia.
SIKAP MANUSIA
 Pengikut hati nurani tetap tegar melakukan kebaikan walau tidak dibalas dengan kebaikan sampai ajal menjemputnya.
 Pengikut nafsu yang tak peduli suara hati nurani semakin menjadi-jadi sampai mati.
 Immanuel Khant berpendapat : Ini tidak adil kalau kehidupan hanya berakhir sampai pada titik kematian. Tidak adil kalau kehidupan hanya di dunia saja.
KAPAN ADA KEADILAN ?
1. Keadilan akan terjadi pada kehidupan kedua sesudah mati.
2. Di sana akan ada Pengadilan yang adil.
3. Hakimnya bukan manusia yang mudah disuap.
4. Argumen moral ini meyakini adanya akhirat dan adanya Tuhan sebagai hakim yang adil.
Nama-nama Allah Yang Teragung
 Nama-nama tertentu dimana bila seseorang berdo’a kepada Allah dengan memenuhi syari’at berdo’a dan menyebut nama itu do’anya mudah dikabulkan Allah.
 Bukan nama rahasia yang hanya diberikan Allah kepada orang tertentu.
Dasar adanya nama-nama Allah yang agung
1. Hadits diriwayatkan Abu Hurairah r.a. katanya :
سمع النبي صعلم رجلا يدعـو وهو يقول : اللهم اني أسألك بأني أشهد أنك أنت الله لآاله الا أنت الأحد الصمد الذى لم يلد ولم يولد ولم يكن له كفوااحد. قال : فقال: والذى نفسى بيده لقد سأل الله بأسمه الأعظم الذى اذا دعي به اجاب واذا سئل به أعطى. رواه أبو داود.
2. Diriwayatkan dari Anas bin Malik r.a. katanya :
دخل النبي صعلم المسجد ورجل قد صلى وهو يدعو ويقول فى دعائه : اللهم لآاله الا انت المنان بديع السماوات والارض ذوالجلال والاكرام. فقال النبي صعلم : أتدرون بم دعا الله ؟ دعا الله باسمه الأعظم الذى اذا دعي به أجاب واذا سئل به أعطى. رواه ابو داود.
3. Dari Asma’ binti Yazid r.a. Nabi SAW bersabda :
اسم الله الأعظم فى ها تين الأيتين : والهكم اله واحد لااله الا هو الرحمن الرحيم ؛ وفاتحة آل عمران : الم لااله الا هو الحي القيوم. (رواه أحمد وابو داود)
4. Dari Sa’ad bin Malik r.a. katanya : Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda :
هل ادلكم على اسم الله الأعظم الذى اذا دعي به أجاب واذا سئل به اعطى ؟ الدعوة التى دعا بها يونس حيث نادى فى الظلمات الثلاث : لآاله الا أنت سبحانك انى كنت من الظالمين. فقال رجل : يارسول الله هل كانت ليونس خاصة ام المؤمنين عامة ؟ فقال رسول الله صعلم. الآ تسمع قول الله عز وجل : ونجيناه من الغم وكذالك ننجى المؤمنين. (رواه الحاكم)
DO’A MAQBUL
• يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله وابتغوا إليه الوسيلة وجاهدوا في سبيله لعلكم تفلحون
TUNTUNAN DO’A MAQBUL
• Ikuti tahapan do’a dalam Al Fatihah :
• بسم الله الرحمن الرحيم
• الحمد لله رب العالمين
• الرحمن الرحيم
• مالك يوم الدين
• إياك نعبد وإياك نستعين
• اهدنا الصراط المستقيم
• صراط الذين أنعمت عليهم غير المغضوب عليهم ولا الضالين
SIFAT WAJIB ALLAH
 Wajib dalam kajian Ilmu Tauhid berarti sesuatu yang tidak masuk akal bila tidak terjadi.
 Sifat wajib Allah menurut Al Asy’ari ada 13 : wujud (ada), qidam (dahulu), baqa’ (kekal), mukhalafatu lil hawadits (beda dengan makhluk), qiyamuhu binafsih (mandiri tidak butuh bantuan), wahdaniyah (Maha Esa), qudrah (Maha Kuasa), iradah (berkehendak), ilmu (maha mengetahui), hayat (hidup), sama’ (maha mendengar), bashar (maha melihat), kalam (bersabda).
SIFAT MUHAL ALLAH
 Muhal berarti sesuatu yang tidak masuk akal bila terjadi.
 Sifat muhal Allah : ‘adam (tdk ada), huduts (baru), fana (rusak), mumatsalatu lil hawadits (sama dg makhluk), qiyamuhu bighairih (butuh bantuan), ta’addud (berbilang), ‘ajzu (lemah), karahah (terpaksa), jahlu (bodoh), mautu (mati), shamamu (tuli), a’ma (buta), bukmu (bisu).
13 SIFAT WAJIB DIKELOMPOKKAN MENJADI TIGA
1. Sifat Nafsiyah : wujud. Merupakan diri dzat dan bukan tambahan pada dzat.
2. Sifat salbiyah (meniadakan sifat Allah yang tidak layak bagiNya) : qidam, baqa, mukhalafatu lil hawadits, qiyamuhu binafsih, wahdaniyat.
3. Sifat Ma’ani (sama dengan sifat dzat, sifat ikram dan sifat tsubut) : qudrat, iradat, ilmu, hayat, sama’, bashar, kalam. Diperselisihkan apakah ‘ainu dzat atau tambahan pada dzat ?
Dilihat dari kaitannya (ta’alluqnya dengan makhluk), sifat wajib Allah dibagi menjadi dua :
1. Yang berta’alluq dengan makhluk : wujud, qidam, baqa, mukhalafu lil hawadits, qiyamuhu binafsih, wahdaniyat, hayat.
– Sifat wahdaniyat meniadakan lima keanekaan (Al Kammiyatul Khamsah) :
- Kam muttashilan fidzdzat
- Kam munfashilan fiihaa
- Kam muttashilan fishshifat
- Kam munfashilan fiihaa
- Kam munfashilan fil af’al
2. Sifat yang berta’alluq dengan makhluk, yaitu :
a. iradat, berta’alluq dengan yang jaiz, dalam hal ini ta’alluq shuluhi (kelayakan/kepantasan) dan tanjizi (menentukan).
b. qudrat, berta’alluq dengan sesuatu yang jaiz, dalam hal ini ta’alluq ta-tsiri (pembekasan)
c. sama’, bashar, ilmu, berta’alluq dengan yang wajib dan jaiz (ta’alluq inkisyafi/terbuka)
d. kalam, berta’alluq kepada yang wajib, muhal & jaiz (ta’alluq dalalah/menunjukkan).
الايمـا ن بالقـد ر
Maksud dari Al Iman bil qadar adalah kita mempercayai bahwa :
1. Allah mengetahui sgl sesuatu (yang sudah, sedang dan akan terjadi)
2. Allah menulis semuanya.
3. Allah menghendaki atas segala sesuatu yang ada.
4. Allah menciptakan apa yang ingin Dia ciptakan
ALLAH MENGETAHUI SGL. SESUATU
• إِنَّ اللَّهَ لَا يَخْفَى عَلَيْهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ(ال عمران : 5)
Sesungguhnya bagi Allah tidak ada satupun yang tersembunyi di bumi dan tidak (pula) di langit
Allah menulis semuanya
• أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ إِنَّ ذَلِكَ فِي كِتَابٍ إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ( الحج : 70)
• Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi?; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah.
Allah menghendaki atas segala sesuatu yang ada
• ويفعل الله ما يشاء ( ابراهيم : 27)
Dan memperbuat apa yang Dia kehendaki.
ولو شاء ربك لجعل الناس أمة واحدة (هود : 118)
Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat,
Allah menciptakan apa yang ingin Dia ciptakan
• والله خلقكم وما تعملون ( الصفـات : 96)
• Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu.
DASAR IMAN KPD TAQDIR
1. Jawaban Rasulullah SAW saat menjawab pertanyaan Jibril ttg iman.
ان تؤمن بالله وملا ئكته وكتبه ورسـله واليوم الآخـر وتؤمن بالقـد ر خيره وشره
Supaya kamu beriman kepada Allah. malaikatNya, kitab-kitabNya, para rasulNya dan hari akhir, dan beriman kepada takdir yang baik dan yang jelek.
2. Dalam hadits Ubadah bin Ash Shamit, ia berkata : Rasulullah SAW berkata kepadaku :
انك لن تجد طعم الايمـان حتى تؤمن بالقـد ر فتعلم
أن ما أصـابك لم يكن ليخطئك ومـا أخطأك لم يكن ليصيبك.
Sesungguhnya kamu tidak akan merasakan manisnya iman hingga kamu beriman kepada taqdir dan kamu meyakini bahwa apa yang telah ditakdirkan mengenai dirimu pasti tidak akan meleset dan apa yang ditakdirkan tidak mengenai dirimu pasti tidak akan menimpamu.
4. Q.S. Al Furqan ayat 2 :
وخلق كل شيء فقدره تقديرا
Ayat 7
 قل لن يصيبنا إلا ما كتب الله لنا هو مولانا وعلى الله فليتوكل المؤمنون (التوبة 51)
 وإن يمسسك الله بضر فلا كاشف له إلا هو وإن يردك بخير فلا راد لفضله يصيب به من يشاء من عباده وهو الغفور الرحيم ( يونس 107)
 وما من دابة في الأرض إلا على الله رزقها ويعلم مستقرها ومستودعها كل في كتاب مبين (هود 6)
 إني توكلت على الله ربي وربكم ما من دابة إلا هو آخذ بناصيتها إن ربي على صراط مستقيم (هود 56)
 وكأين من دابة لا تحمل رزقها الله يرزقها وإياكم وهو السميع العليم (العنكبوت 60)
 ما يفتح الله للناس من رحمة فلا ممسك لها وما يمسك فلا مرسل له من بعده وهو العزيز الحكيم (الفا طر 2)
 ولئن سألتهم من خلق السماوات والأرض ليقولن الله قل أفرأيتم ما تدعون من دون الله إن أرادني الله بضر هل هن كاشفات ضره أو أراد ني برحمة هل هن ممسكات رحمته قل حسبي الله عليه يتوكل المتوكلون (الزمر 38)
TAQDIR DAN IKHTIAR
1. Iman kepada taqdir tidak menafikan ikhtiar.
2. Ikhtiar merupakan sesuatu yang diperintahkan oleh syari’at.
3. Allah menciptakan sgl sesuatu dengan hikmah terkait dengan hukum kausalitas (hukum sebab akibat).
4. Termasuk gila orang yang percaya kpd takdir hanya berdo’a minta dikaruniai anak sedangkan dia tidak mau menikah.
5. Termasuk bodoh orang yang ingin pandai dan kaya padahal tidak mau belajar dan bekerja.
Kisah Umar bin Khattab
• Umar pergi ke Syam, di tengah jalan kembali ke Madinah karena ada kabar di Syam berjangkit penyakit To’un.
• Abu Ubaidah Amir bin Al Jaroh berkata : Apakah Amirul Mukminin akan lari dari takdir Allah?
• Umar menjawab : Kita akan lari dari takdir menuju takdir Allah yang lain.
• Lalu Abdurrahman bin Auf datang dan membacakan hadits Nabi SAW :
اذا سمعـتم به فى ارض فلا تقـد موا عليهـا
Apabila kamu mendengar dia (wabah tha’un) berjangkit di sebuah tempat, maka janganlah kamu mendatanginya.
HAKEKAT MANUSIA
 Manusia makhluk paling mulia :
لقد خلقنا الإنسان في أحسن تقويم (التين 4)
ٍSesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya .
ولقد كرمنا بني آدم وحملناهم في البر والبحر ورزقناهم من الطيبات وفضلناهم على كثير ممن خلقنا تفضيلا (الا سرأ 70)
Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan (maksudnya: Allah memudahkan bagi anak Adam pengangkutan-pengangkutan di daratan dan di lautan untuk memperoleh penghidupan), Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.
SIFAT MANUSIA
1. SIFAT MUSAYYAR (SUDAH DITETAPKAN) TIDAK ADA CAMPUR TANGAN MANUSIA
2. SIFAT MUKHAYYAR (DAPAT MEMILIH MANA YANG BAIK MANA YANG BURUK KARENA DIBERI AKAL).
SIFAT MUSAYYAR
Manusia memiliki :
• Sifat benda
• Sifat tumbuh-tumbuhan
• Sifat binatang
SIFAT MUKHAYYAR
 MANUSIA DAPAT MEMILIH MELAKUKAN PERBUATAN BAIK ATAU BURUK KARENA MEMPUNYAI AKAL
 YANG MEMPUNYAI AKAL KENA TAKLIF

PENINGKATAN PENGELOLAAN PERPUSTAKAAN MELALUI APLIKASI SLIMS DI PENGADILAN AGAMA KABUPATEN MALANG

  PAPER MAGANG I PROGRAM PENDIDIKAN DAN PELATIHAN CALON HAKIM TERPADU ANGKATAN III PERADILAN AGAMA   JUDUL: PENINGKATAN PENGELOLAA...